sejarah

KH Muhammad Suhud, Sang Pelatih Laskar Hizbullah di Mojokerto-Jombang

Minggu, 2 Maret 2025 | 13:30 WIB
(Dari kiri) KH Muhammad Suhud (Sumber: Buku Biografi Kiai Mojokerto. )

Kabar Mojokerto- KH Muhammad Suhud merupakan salah satu komandan sekaligus pelatih Laskar Hizbullah. Namun, tak banyak penulis sejarah peran santri dalam perang kemerdekaan yang mengulas kiprah Kiai Suhud.

Padahal, begitu besar jasanya dalam membentuk dan melatih para santri sehingga siap berperang baik dalam Laskar Hizbullah maupun Sabilillah.

Tak hanya pejuang di medan perang, Kiai Suhud juga pernah menjadi anggota DPRD dari jalur Partai NU.

Perjalan singkat KH Muhammad Suhud diceritakan pemerhati sejarah Mojokerto, Isno, dalam bukunya berjudul ‘Biografi Kiai Mojokerto’.

Isno menyebut, Kiai Suhud lahir di Kediri pada 1 November 1926. Tetapi, tanggal lahir tersebut bisa tudak sesuai karena masih ada hubungannya dengan pencalononan anggota DPRD

“Kemungkinan juga, seperti orang dulu pada umumnya, tidak perduli dengan angka kelahiran. Sehingga ketika diera modern ditanya tentang angka kelahiran, maka akan dikira-kirakan,” kata Isno dikutip dalam buku Biografi Kiai Mojokerto.

Berdasarkarkan keterangan putra Kiai Suhud, Gus Yakub, umurnya tidak beda jauh dengan dengan KH Wahid Hasyim, antara tahun 1915-1920. Ini setara pula dengan angka kelahiran dari sahabat sahabt Ansornya di Mojokerto. Di antaranya KH Ahyat Chalimi, KH Munasir Ali dan Mansur Solikhi yang lahir antara tahun 1915-1920.

“KH Muhammad Suhud kecil tinggal di Pare. Setelah tumbuh remaja, ia dibawa oleh orang tuanya tinggal di Sumobito. Di Sumobito ini, KH. Muhammad Suhud remaja belajar mengaji di Masjid Sumobito,” jelas Isno.

Baca Juga: Mengenal Kiai Djatmiko Asal Mojokerto, Sosok Pemberi Keris Gus Dur di Makam Troloyo

Ia menuturkan, Kiai Suhuh melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Tebuireng pada 1930. Di Tebuireng, ia memperoleh pengalaman luar biasa. Ia selain dididik langsung oleh Hadratus Syeikh Hasim Asyari juga menjadi teman diskusi KH Wahid Hasyim.

“Dari KH Wahid Hasyim inilah KH Muhammad Syuhud memperoleh ilmu organisasi dan ilmu sosial politik, yang kelak menjadi bekalnya dalam berpolitik pasca kemerdekaan,” terangnya.

KH Muhammah Suhud dipercaya oleh Hadratus Syekh Hasyim Asyari untuk mendirikan dan membina Madrasah Ibtidaiyah di beberapa daerah. Ia juga mendirikan  pesantren, Roudlotul Muttaqin Ngares, Gedeg, Mojokerto.

KH Muhammad Suhud juga bergabung menjadi anggota Ansor Mojokerto pimpinan KH Ahyat Chalimi. Di Ansor, ia berinteraksi secara intens dengan anggota Ansor seperti KH Munasir Ali, Mansur Solikhi, Mulyadi, Ahmad Yatim dan lain sebagainya.

“Pada saat Masyumi menyetujui untuk mengirim santri santri bergabung dengan PETA, KH. Muhammad Suhud ikut bergabung. Ia dikirim untuk berlatih militer di Jatinegara dan Jakarta. Dan kemudian mengantarkannya memperoleh kedudukan sebagai Shodancho,” papar Isno.

Halaman:

Tags

Terkini