Lapangan Kerja yang Masih Sulit
Survei juga mengungkapkan bahwa mayoritas konsumen menilai lapangan kerja saat ini buruk dan lebih buruk dibanding setengah tahun lalu. Indeks ketersediaan lapangan kerja turun 1,6 poin menjadi 94,1, angka terendah sejak Maret 2022, dan sudah dua bulan berturut-turut negatif.
Penurunan paling dalam dialami oleh konsumen dengan pengeluaran lebih dari Rp5 juta per bulan, yang indeksnya berada di 90,1, terburuk sejak Maret 2022. Sementara konsumen berpenghasilan rendah bahkan sudah empat bulan berturut-turut melihat kondisi lapangan kerja sangat buruk, dengan indeks hanya 87,3.
Kelas menengah atas juga menunjukkan pesimisme tinggi, dengan indeks lapangan kerja terendah dalam tiga tahun terakhir.
Ketidakpastian lapangan kerja ini membuat konsumen sulit berharap banyak akan perbaikan di masa mendatang, terlihat dari indeks ekspektasi lapangan kerja yang stagnan hanya naik 0,3 poin.
Baca Juga: Pengajuan KUR BRI 2025: Cek Syarat, Plafon Pinjaman, dan Simulasi Angsuran Terbaru
Pembelian Barang Tahan Lama
Pembelian barang-barang seperti elektronik dan peralatan rumah tangga biasanya jadi tanda kekuatan daya beli. Pada Juni, indeks pembelian barang tahan lama naik 1,8 poin, terutama karena dorongan dari kelas menengah.
Tapi konsumen berpenghasilan rendah malah menurun pembeliannya hingga masuk zona pesimistis untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Konsumen kelas atas juga mengalami penurunan pembelian meski masih di zona optimistis.
Harapan Kondisi Usaha
Meski kondisi ekonomi dan penghasilan suram, masih ada harapan bahwa kegiatan usaha akan membaik dalam enam bulan ke depan, dengan indeks optimisme naik 1,5 poin.
Namun, optimisme ini tidak merata, konsumen kelas menengah dan atas justru kurang yakin akan kondisi usaha di masa mendatang, meskipun mereka masih berada di level optimistis.
Baca Juga: Awas Jangan Salah, Ini Daftar 96 Pinjol yang Terdaftar OJK
Utang Meningkat, Tabungan Menurun
Yang jadi perhatian utama, rasio tabungan masyarakat pada Juni turun ke titik terendah sejak Maret. Penurunan tabungan terjadi di hampir semua kelompok kecuali kelas menengah dengan pengeluaran Rp3,1-4 juta per bulan.
Penurunan tabungan ini terjadi bersamaan dengan kenaikan konsumsi, terutama menjelang musim libur sekolah dan perayaan Idul Adha. Konsumsi naik di semua kelas kecuali kelas paling rendah dan paling tinggi.
Menariknya, saat tabungan menurun dan konsumsi naik, utang masyarakat juga meningkat di hampir semua kelompok. Kelas berpenghasilan rendah mengalami kenaikan utang terbesar, meski konsumsi dan tabungannya menurun.