Kabar Mojokerto - Kecanduan pornografi bukan sekadar kebiasaan buruk dalam tingkatan tertentu, hal ini dapat menjadi masalah medis dan psikologis serius. dr Jeffre Albari Tribowo, Sp.And., dokter spesialis andrologi pertama di Banjarmasin, mengungkapkan bahwa kecanduan ini termasuk dalam kategori kecanduan perilaku, seperti halnya kecanduan game dan judi online.
Berikut adalah enam tanda bahaya yang menunjukkan bahwa seseorang mungkin telah mengalami kecanduan pornografi berat:
Baca Juga: Pemkab Mojokerto Hadirkan Gemapitu, Solusi Layanan Kesehatan Merata untuk Warga
1. Sulit Mengontrol Gairah Seksual
Pada pria, gairah seksual merupakan hal wajar, terutama setelah pubertas. Namun, pecandu pornografi berat sering kesulitan mengendalikannya. Mereka dapat terus-menerus memikirkan konten pornografi bahkan di tengah aktivitas publik, mirip dengan gejala “sakau” pada pecandu narkoba.
2. Gangguan Fokus dan Produktivitas
Akibat kesulitan mengendalikan hasrat, mereka cenderung kehilangan fokus dalam aktivitas sehari-hari, seperti belajar atau bekerja. Pecandu menjadi gelisah, buru-buru ingin menyendiri, dan merasa kurang puas dengan pencapaian-pencapaian kecil karena terbiasa dengan gratifikasi instan dari pornografi.
3. Mencari Konten yang Semakin Ekstrem
Gejala klasik dari desensitisasi otak adalah kebutuhan akan rangsangan yang terus meningkat. Pecandu pornografi akan merasa bosan dengan konten biasa dan mencari yang lebih ekstrem demi memuaskan dopamin otaknya. Tak jarang, ini membuat mereka rela mengeluarkan uang untuk konten premium.
Baca Juga: Fisioterapis Asal Mojokerto Jadi Delegasi Indonesia di Konferensi Isokinetic FIFA
4. Menghabiskan Waktu Lama untuk Menonton
Dr. Jeffre membagi penonton pornografi menjadi tiga kategori:
-
Rekreasional (≤ 30 menit/minggu, tanpa keluhan)
-
Kompulsif (2 jam+/minggu, dengan keluhan signifikan)
-
High Distress (waktu sebentar, tapi muncul rasa bersalah berlebihan)
Pecandu kompulsif biasanya mengakses konten di waktu dan tempat yang tidak semestinya, bahkan di tempat umum, menunjukkan gangguan perilaku serius.
5. Rasa Bersalah dan Cemas Setelah Menonton
Pada kategori high distress, meskipun waktu menonton sedikit, penderita mengalami rasa bersalah, stres, dan cemas setelahnya. Ironisnya, mereka tetap mengulangi perilaku ini karena sulit berhenti, menciptakan lingkaran setan psikologis yang berujung pada penarikan diri sosial dan bahkan depresi.
6. Gangguan Fungsi Seksual
Kondisi seperti Porn-Induced Erectile Dysfunction (PIED) bisa terjadi akibat ekspektasi seksual yang tidak realistis. Pecandu mungkin hanya bisa mencapai ereksi saat menonton pornografi atau dengan teknik masturbasi tertentu yang tidak bisa direplikasi dalam hubungan nyata, sehingga hubungan intim dengan pasangan menjadi tidak memuaskan.