Kabar Mojokerto - Kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mendorong perubahan besar dalam dunia medis, mulai dari diagnosis hingga pengolahan data kesehatan.
Namun, di tengah euforia tersebut, muncul peringatan serius soal potensi penyalahgunaan AI oleh masyarakat awam, terutama saat digunakan sebagai sumber informasi kesehatan utama.
Setiaji, Kepala Technology Transformation Office Kementerian Kesehatan RI, menekankan bahwa AI bukanlah pengganti tenaga medis dan penggunaannya harus tetap dalam pengawasan profesional.
Menurutnya, AI memang dapat memberikan analisis cepat berdasarkan data gejala, tetapi tetap tidak mampu menilai kondisi manusia secara holistik seperti yang dilakukan oleh dokter.
Baca Juga: Kenapa Badan Terasa Panas di Malam Hari? Ini 9 Penyebab Medis yang Perlu Diwaspadai
Ia mencontohkan bahwa diagnosis medis bukan sekadar membaca gejala, tapi juga mempertimbangkan faktor personal seperti riwayat penyakit, kondisi sosial, hingga lingkungan hidup pasien.
"Teknologi seperti ChatGPT atau chatbot medis lainnya bisa jadi membantu, tapi tidak bisa memberikan keputusan medis definitif," ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi, dikutip laman kemkes.go.id.
Setiaji juga mengingatkan bahwa sebagian besar AI dilatih dengan data yang belum tentu merepresentasikan populasi Indonesia secara akurat.
Dengan kata lain, akurasi AI dalam lingkungan laboratorium tidak menjamin keandalannya di lapangan, apalagi dalam sistem kesehatan dengan kompleksitas tinggi seperti di Indonesia.
Baca Juga: Siapa yang Tanggung Biaya Berobat Korban Kecelakaan Lalu Lintas? Ini Penjelasan BPJS
Beberapa tantangan utama dalam pemanfaatan AI untuk kesehatan meliputi:
-
Kurangnya personalisasi dalam hasil analisis,
-
Ketiadaan interaksi fisik dan emosional antara pasien dan sistem,
-
Risiko interpretasi keliru terhadap gejala medis yang serupa,