Kesenjangan antara data pelatihan AI dan realitas klinis lokal.
Lebih dari itu, AI masih sangat bergantung pada pola-pola yang pernah dipelajarinya, yang membuatnya rentan terhadap bias data dan kekeliruan jika dihadapkan pada kasus atipikal.
Setiaji menegaskan bahwa dokter tetap memegang peran sentral dalam pengambilan keputusan medis karena mereka dibekali dengan pengetahuan, intuisi, dan pertimbangan etis yang tidak dimiliki AI.
"Sistem AI bisa menjadi mitra dalam proses pengambilan keputusan, bukan penggantinya," tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa AI seharusnya digunakan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi layanan kesehatan, bukan sebagai sumber diagnosis utama yang digunakan secara mandiri oleh masyarakat.
Baca Juga: Ini Ragam Manfaat Susu Kambing, Bisa Tingkatkan Vitalitas?
Dalam praktiknya, konsultasi medis yang valid tetap membutuhkan pemeriksaan fisik, wawancara langsung, serta tes lanjutan yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga profesional.
Penggunaan AI secara sembarangan tanpa pendampingan medis berisiko memperburuk kondisi pasien karena potensi misdiagnosis atau penanganan yang tidak sesuai.
Karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap menjadikan dokter sebagai sumber utama dalam mengambil keputusan kesehatan, dan menjadikan AI hanya sebagai rujukan informasi awal.
Artikel Terkait
Mengapa 1 Agustus Diperingati sebagai Hari Kanker Paru Sedunia? Ini Sejarahnya
8 Manfaat Buah Bit untuk Gaya Hidup Sehat, Nomor 2 Bikin Kagum
Ini Ragam Manfaat Susu Kambing, Bisa Tingkatkan Vitalitas?
Siapa yang Tanggung Biaya Berobat Korban Kecelakaan Lalu Lintas? Ini Penjelasan BPJS
Kenapa Badan Terasa Panas di Malam Hari? Ini 9 Penyebab Medis yang Perlu Diwaspadai