sejarah

Mengenal Kiai Mochammad Moechsin di Mojokerto: Saudagar Daun Emas yang Mewakafkan Hartanya untuk Pendidikan Islam

Sabtu, 11 April 2026 | 14:43 WIB
Ilustrasi seorang kiai mewakafkan hartanya untuk pendidikan. (Gemini AI)

Kabar Mojokerto - Bagi warga Kota Onde-Onde, nama Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Muhsinun tentu sudah tidak asing lagi. Lembaga pendidikan Islam yang berdiri kokoh di jantung Kampung Kauman ini menyimpan jejak sejarah panjang tentang kedermawanan seorang tokoh bernama Kiai Mochammad Moechsin.

Siapa sebenarnya sosok ini dan bagaimana kiprahnya dalam peta sejarah Mojokerto?

Pengamat sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq, membedah kisah sang saudagar yang namanya abadi dalam dunia pendidikan.

Saudagar Tembakau dari Kampung Kauman

Menurut Ayuhanafiq, Kiai Mochammad Moechsin bukanlah seorang petani. Di masa hidupnya, ia menetap di Kampung Kauman, sebuah pemukiman yang terbentuk sejak Mojokerto ditetapkan sebagai pusat pemerintahan pada tahun 1838.

Karena tidak adanya lahan persawahan, masyarakat Kauman umumnya hidup sebagai pedagang, buruh, atau guru agama.

Moechsin mengambil jalan sebagai wiraswasta. Ia dikenal sebagai saudagar tembakau skala besar yang memasok barang hingga antar pulau. Pada awal abad ke-20, tembakau adalah komoditas primadona yang dijuluki sebagai "daun emas".

"Berkat ketekunannya dalam bisnis tembakau asal Madura tersebut, Moechsin tumbuh menjadi orang kaya di masanya. Ia juga aktif dalam ketakmiran Masjid Kauman, sehingga masyarakat kerap memanggilnya Kyai," terang Ayuhanafiq dalam sebuah tulisannya.

Baca Juga: Menengok Manuskrip Alquran Berumur Ratusan Tahun di Ponpes Mojokerto, Diyakini Karya Kiai Sholeh Ilyas

Persahabatan Dua Saudagar dan Kerisauan Pendidikan

Jejak perjuangan Kiai Moechsin tidak lepas dari persahabatannya dengan Kiai Zainal Alim. Keduanya sama-sama memiliki relasi dengan Gresik dan sama-sama bergerak di bidang perdagangan. Zainal Alim sebagai pedagang kain dan Moechsin sebagai juragan tembakau.

Titik balik peran Moechsin terjadi pada tahun 1924. Saat itu, Kiai Zainal Alim bersama Kiai Nawawi Jagalan mendirikan Madrasah Suronatan sebagai bentuk perlawanan terhadap diskriminasi pendidikan kolonial yang hanya bisa diakses kaum priyayi.

"Animo masyarakat saat itu sangat luar biasa. Langgar Suronatan tidak lagi mampu menampung murid yang membeludak hingga ke teras rumah. Melihat kondisi tersebut, hati Kyai Moechsin tergerak," lanjut pria yang akrab disapa Yuhan ini.

Baca Juga: Kiprah KH Suhud Mojokerto, Kiai Militer yang Berjuang Lawan Penjajah dan Mengabdi di DPR

Halaman:

Tags

Terkini