Mengenal Kiai Mochammad Moechsin di Mojokerto: Saudagar Daun Emas yang Mewakafkan Hartanya untuk Pendidikan Islam

Photo Author
Muhammad Lutfi Hermansyah, Kabar Mojokerto
- Sabtu, 11 April 2026 | 14:43 WIB
Ilustrasi seorang kiai mewakafkan hartanya untuk pendidikan. (Gemini AI)
Ilustrasi seorang kiai mewakafkan hartanya untuk pendidikan. (Gemini AI)

Tanah Wakaf di Selatan Masjid

Sadar bahwa dirinya tidak bisa mengajar karena kesibukan bisnis, Kiai Moechsin memilih berjuang melalui hartanya. Ia mewakafkan sebidang tanah strategis tepat di selatan Masjid Kauman untuk dijadikan gedung madrasah yang layak.

Gedung baru itu pun dibangun secara swadaya. Setelah siap, Madrasah Suronatan berpindah ke Kauman dan berganti nama menjadi Madrasah Kauman, dengan Kiai Nawawi Jagalan sebagai kepala sekolahnya (Mundir).

Sejak NU Cabang Mojokerto berdiri pada 1928, madrasah ini bahkan sempat menjadi pusat koordinasi para kiai dan tempat rapat organisasi.

Bertahan di Tengah Resesi Ekonomi

Ujian terberat datang saat resesi ekonomi global melanda pada tahun 1930. Banyak sekolah swasta tutup karena subsidi kolonial dicabut. Namun, Madrasah Kauman yang sejak awal menolak bantuan penjajah justru tetap tegak berdiri.

Kyai Moechsin bersama Kyai Zainal Alim mengambil langkah berani. Yakni dengan menggratiskan biaya bagi murid yang tidak mampu. Seluruh biaya operasional ditanggung melalui donasi para aghniya (orang kaya), di mana Kyai Moechsin menjadi donatur utamanya.

Warisan Nama yang Abadi

Kyai Mochammad Moechsin wafat tak lama setelah masa resesi tersebut berakhir dan dimakamkan di kompleks pemakaman Losari, Gedeg, Mojokerto. Meskipun belum ada data pasti kapan nama "Al Muhsinun" resmi disematkan, kuat dugaan perubahan itu terjadi di masa kepemimpinan Kiai Achyat Chalimy.

"Perubahan nama Madrasah Kauman menjadi Al Muhsinun kemungkinan besar sejalan dengan perubahan nama Masjid Kauman menjadi Masjid Al Fatah. Nama Al Muhsinun dipilih untuk mengabadikan jasa sang wakif, Kyai Moechsin, agar semangat kedermawanannya terus menginspirasi generasi mendatang," tutup Ayuhanafiq.

Hingga kini, MI Al Muhsinun tetap berdiri, menjadi saksi bisu bahwa kejayaan seorang saudagar bukan dilihat dari berapa banyak harta yang ia kumpulkan, melainkan berapa banyak yang ia titipkan untuk masa depan umat.

Halaman:

Editor: Muhammad Gusta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X