Kabar Mojokerto - Tempat pemakaman seringkali diidentikkan dengan hal-hal yang berbau mistis dan astral. Berbagai kisah mistis dan kejadian aneh pun kerap terjadi. Salah satunya dialami oleh Agus Harianto, penjaga Taman Makam Pahlawan (TMP) Gajah Mada, Mojokerto.
Meski dihadapkan dengan berbagai cerita menyeramkan, Agus yang sudah berusia 45 tahun ini tak pernah merasa takut. Baginya, hal-hal gaib justru sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Dengan santai, Agus bahkan berkelakar, “Halah, demitnya sungkan sama saya. Saya ini mbah-nya demit kok!” ujar Agus dengan tawa saat ditemui Tim Kabar Mojokerto di kompleks TMP Gajah Mada, Jumat (8/11/2024).
Baca Juga: Letkol Soemardjo, Pejuang Asal Mojokerto yang Gugur dalam Pertempuran di Surabaya
Kejadian Aneh, Gundukan Makam Tiba-Tiba Rata
Agus mengungkapkan beberapa pengalaman aneh yang pernah ia alami selama bertugas. Salah satunya terjadi pada tahun 2019, ketika ia menyaksikan sebuah keanehan di makam seorang pejuang kemerdekaan yang baru saja disemayamkan.
“Saya ikut pemakaman sore sekitar pukul 16.00 WIB, saat itu masih ada gundukan tanah di makamnya. Tapi keesokan harinya, pukul 06.00 WIB, saya melihat tanahnya sudah rata,” ujar Agus. Kejadian ini membuatnya merasa heran, lalu ia pun memanggil rekan-rekannya untuk membahas kejadian tersebut. Dengan nada bercanda, ia berkata, “Ono seng dodolan tanah ta? (Ada yang jual beli tanah kah?),” yang disambut tawa oleh mereka.
Namun, di balik kelakar tersebut, Agus tetap berdoa agar amal ibadah almarhum diterima di sisi Tuhan. “Lalu saya hanya berdoa, semoga amal ibadahnya diterima,” ujar pria asal Kelurahan Blooto, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto ini.
Baca Juga: Kontroversi dan Mitos Makam Telu di Troloyo Mojokerto
Peti Jenazah Tak Bisa Masuk Makam
Pada tahun 2023, Agus mengalami kejadian yang lebih menggelisahkan. Suatu malam, saat ia sedang menyiapkan liang lahat, peti jenazah yang akan dikuburkan tiba-tiba tak bisa masuk ke dalam makam. Padahal, liang lahat yang ia gali lebih dari cukup untuk ukuran peti jenazah yang panjangnya mencapai 2,10 meter.
“Peti jenazah itu tak bisa masuk, padahal makamnya sudah cukup besar. Saya bahkan sudah menggali lebih dalam dari ukuran peti, dan ruangnya masih longgar,” ujar Agus dengan gelisah. Meskipun sudah dicoba berkali-kali, peti tersebut tetap tak bisa masuk.
Akhirnya, peti jenazah terpaksa diinjak dan didorong menggunakan kaki agar bisa masuk. Namun keanehan tidak berhenti di situ. Bantalan tanah (gendu) yang semula disiapkan untuk jenazah tiba-tiba menghilang. Agus pun menceritakan, “Anaknya bawa gendu (bantalan dari tanah), tapi waktu disini hilang. Kemudian, tepat 7 hari setelahnya, saya menemukannya di samping nisan. Itu benar-benar terjadi.”
Baca Juga: Mengulas Sejarah Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya yang Jadi Inspirasi Gombloh Ciptakan Lagu