Menurut Ning Ita, meskipun saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan besar akibat isu global tarif impor USA, ia yakin bahwa dengan pengalaman dan pembelajaran dari masa pandemi, Indonesia, khususnya Kota Mojokerto, dapat menghadapi tantangan tersebut dengan lebih baik.
"Tiga tahun pandemi bisa kita lalui dengan selamat, maka hari ini kita lebih yakin lagi bahwa kita pasti bisa menghadapi kondisi ini dengan lebih aman. Kita harus terus rumuskan strategi-strategi yang solutif dan kreatif agar tetap mampu bertahan di tengah kondisi geopolitik dan ekonomi global yang kurang menguntungkan bagi Indonesia," tambahnya.
Baca Juga: Tertinggi di Jatim, Pemkot Mojokerto Raih Nilai MCP 98,41 dari KPK
FGD yang dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk perwakilan pengrajin dan instansi terkait seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Timur serta rekan-rekan media, bertujuan untuk mencari solusi yang dapat membantu pelaku IKM di Kota Mojokerto agar tetap bertahan dan berkembang meskipun di tengah tantangan.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Ita berharap diskusi yang berlangsung dapat menghasilkan rumusan yang solutif.
"Harapan saya, diskusi ini akan menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang bisa menjadi kebijakan yang kita usulkan kepada pemerintah pusat. Kita akan bekerja sama untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil dapat mendukung sektor IKM dan perekonomian daerah," tegasnya.
Ning Ita juga mengutip pernyataan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana, bahwa ketika ekspor barang terkena tarif tinggi, maka harus mencari sektor lain yang bisa menjadi penyeimbang, yaitu sektor pariwisata.
“Pariwisata adalah ekspor jasa yang tidak terganggu oleh tarif dagang. Dengan menarik banyak wisatan untuk datang ke Indonesia maka dapat menjags stabilitas rupiah dan cadanagn devisa,” terangnya.