Kabar Mojokerto – Memiliki tubuh gemoy (kegemukan) atau obesitas bukan hanya soal penampilan, tetapi juga meningkatkan risiko berbagai penyakit. Oleh karena itu, pencegahan obesitas menjadi tanggung jawab masing-masing individu.
Menurut laman alodokter.com, seseorang dikatakan obesitas jika memiliki indeks massa tubuh (IMT) di atas 30. IMT dapat dihitung dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m). Angka IMT yang dianggap normal berada pada kisaran 18,5-25. Jika IMT melebihi 25, berarti seseorang mengalami kelebihan berat badan, sementara IMT di bawah 18 menunjukkan berat badan kurang.
Jika angka IMT sudah melebihi 40, sebaiknya segera mencari penanganan, karena angka ini merupakan tanda bahaya.
Baca Juga: Bahaya! Simak Risiko Penyakit Yang Doyan Makan Pedas Siap Saji
Dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Gatoel, dr. Supiansyah, menjelaskan bahwa obesitas termasuk dalam kategori sindrom metabolik, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.
“Obesitas merupakan bagian dari gangguan metabolik sindrom. Jika tidak ditangani, bisa menjadi predisposisi bagi beberapa penyakit, seperti diabetes, jantung, stroke, dan kolesterol,” ungkapnya kepada Kabar Mojokerto pada Kamis (17/10/2024).
Lantas, apa saja tips bagi pengidap obesitas agar tetap sehat?
Menurut dr. Supiansyah, langkah awal bukanlah mengonsumsi obat, tetapi mengubah gaya hidup. Pertama, penting untuk menjaga pola makan dengan menghindari junk food (makanan cepat saji).
Baca Juga: Cuaca di Mojokerto Semakin Panas, Waspada Risiko Heat Storke
“Junk food adalah makanan yang instan, tinggi kalori, dan banyak mengandung bumbu. Itu harus dihindari,” tegasnya.
Kedua, rutin berolahraga. Ketiga, pastikan untuk istirahat secara teratur. Namun, bagi mereka yang mengalami obesitas, disarankan untuk menghindari olahraga yang berat, seperti lari atau olahraga kompetitif, karena beban yang terlalu berat. Sebaiknya, pilihlah aktivitas sederhana seperti jalan kaki atau bersepeda.
“Tidak ada patokan waktu untuk olahraga, lakukan sesuai kemampuan. Perhatikan detak jantung; jika sudah tinggi dan napas mulai tersengal-sengal, hentikanlah. Jangan memaksakan diri, karena bisa berisiko serangan jantung,” tambah dr. Supiansyah.
Jika ingin diet, sebaiknya dilakukan dengan cara yang tepat dan di bawah pengawasan ahli gizi. Ini penting agar asupan kalori, protein, dan karbohidrat terjaga dengan baik.
“Pola makan harus teratur, dan kalori yang masuk harus seimbang dengan yang dikeluarkan. Oleh karena itu, pendampingan dari ahli gizi diperlukan untuk menghitung kebutuhan kalori, protein, dan karbohidrat, karena setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda-beda,” pungkasnya.