Harga Bitcoin Anjlok Imbas Konflik Iran-Israel, AS Dinilai Picu Ketakutan Pasar

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Senin, 23 Juni 2025 | 15:21 WIB
Ilustrasi Bitcoin (Pixabay)
Ilustrasi Bitcoin (Pixabay)

Kabar Mojokerto - Harga Bitcoin dan sejumlah aset kripto utama lainnya mengalami tekanan tajam sepanjang akhir pekan lalu, setelah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Ketidakpastian global ini memicu aksi jual besar-besaran di pasar aset digital.

Melansir CNBC, Bitcoin sempat terperosok ke bawah level psikologis US$100.000 per keping, dengan posisi terendah di sekitar US$98.385, pada Sabtu (21/6/), menurut data dari Binance. Ini menandai penurunan sekitar 7% dalam sepekan terakhir. Harga sempat pulih pada awal pekan ini dan mencatat rebound tipis ke level US$101.949 pada Senin (23/6) siang.

Kemerosotan ini tidak berdiri sendiri. Konflik yang semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mendukung agresi militer Israel terhadap Iran turut memicu kekhawatiran pasar. Bahkan Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak global yang mengalirkan 20% pasokan dunia.

Baca Juga: Danantara Teken MoU Rp13 Triliun dengan Chandra Asri dan INA untuk Bangun Proyek Industri Kimia

Jika jalur ini benar-benar diblokir, JPMorgan memperkirakan harga minyak bisa meroket hingga US$130 per barel, yang bisa mendorong inflasi AS kembali ke angka 5% dan memaksa The Fed menaikkan suku bunga.

Menurut Pierre Rochard, CEO Bitcoin Bond, pelemahan Bitcoin bukan mencerminkan keretakan fundamental, melainkan karena likuiditasnya yang tinggi. "Bitcoin adalah aset yang paling likuid dan bisa dijual 24/7 di seluruh dunia. Di saat pasar panik, justru ia yang pertama dikorbankan dalam upaya deleveraging," ungkapnya di platform X.

Namun analis lain, seperti Peter Schiff, tetap skeptis terhadap prospek jangka pendek Bitcoin. Ia mempertanyakan siapa yang masih akan membeli kripto tersebut di bawah US$100 ribu, selain tokoh seperti Michael Saylor. Schiff juga menyoroti korelasi positif Bitcoin dengan pasar saham dan korelasi negatif terhadap harga emas yang kini justru naik di tengah krisis.

Di sisi lain, mantan CEO BitMEX, Arthur Hayes, memilih tetap optimis. Ia menyebut pelemahan ini sebagai "koreksi wajar" yang akan segera berlalu, dan percaya Bitcoin tetap berpotensi menjadi aset safe haven di tengah ketidakpastian global.

Tak hanya Bitcoin, aset kripto lain juga terpuruk. Dalam 24 jam terakhir hingga Senin (23/6), XRP turun 1,09%, Solana melemah 1,05%, Dogecoin anjlok 0,83%, dan Cardano tergerus 1,42%. Secara mingguan, keempatnya mencatat koreksi lebih dalam Cardano memimpin dengan penurunan 14,83%.

Baca Juga: Danantara Dukung Program 3 Juta Rumah Subsidi, Siap Gelontorkan Rp 130 Triliun

Gelombang penurunan ini memperlihatkan bagaimana gejolak geopolitik bisa dengan cepat mengguncang pasar kripto yang dikenal sangat sensitif terhadap sentimen global. Di tengah ketidakpastian, para investor kini kembali melirik aset yang dianggap lebih aman seperti Dolar AS dan emas, ketimbang bertaruh pada kripto.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

IHSG Kembali Merosot, Istina Bilang Begini

Senin, 2 Februari 2026 | 11:13 WIB

Janda di Mojokerto Rela Jadi Badut Demi 3 Buah Hati

Kamis, 1 Januari 2026 | 17:18 WIB
X