Inspiratif, Perjalanan 2 Mahasiswi Pendiri Twelve's Organic di Mojokerto Hingga Beromzet Rp 20 Juta/Bulan

Photo Author
Administrator, Kabar Mojokerto
- Jumat, 31 Maret 2023 | 10:01 WIB
Kegiatan di Twelve's Organic.
Kegiatan di Twelve's Organic.

Pacet - Perjalanan dua mahasiswi dalam mengembangkan Twelve's Organic dengan omzet Rp 20 juta per bulan tidak semudah yang dibayangkan. Karena perjalanan mahasiswa tersebut cukup panjang karena memulai bisnis sejak tahun 2008 silam.

Sebelum dikenal luas seperti saat ini yaitu Twelve's Organic, awal pertanian organik dimulai ketika Maya Stolastika (37) dan 4 sahabatnya yang semuanya perempuan tahun 2008 menjajaki Desa Claket.

Tahun 2008, mereka berlima masih bestatus mahasiswi Sastra Inggris di Unesa Surabaya. Kelima mahasiswi tersebut nekad terjun ke dunia pertanian organik hanya dengan modal patungan tanpa ilmu pertanian maupun bisnis.

Tidak seperti masa jaya saat ini, kala itu, Maya dan kawan-kawan baru menyewa kebun 0,5 hektare di Dusun/Desa Claket. Mereka menanam sawi hijau atau caisim dengan mempekerjakan 1 petani perempuan dan 2 petani laki-laki.

Pemilihan Desa Claket karena kunjungan mereka tahun 2007. Sehingga sebelumnya para mahasiswa ini telah melakukan observasi awal mengenai lahan pertanian yang cocok untuk memulai bisnis pertanian organik.

[irp posts="3748" ]

Mulanya, mereka menjadi penerjemah di acara Children Converence fot Climate Changes yang digelar Pemkot Surabaya. Sebab para peserta datang dari sejumlah negara, seperti Inggris, Australia dan Rusia.

Selesai acara itu, Maya dan kawan-kawan berjalan-jalan ke Desa Claket. Mereka pun jatuh cinta dengan keindahan alam dan budaya masyarakat setempat. Ini menjadi cikal bakal pemilihan lokasi pertanian organik.

Diawal pertanian, mereka gagal total karena mengelolanya tanpa ilmu sama sekali. Kendala utamaya yaitu mereka tak mampu memasarkan hasil panen sekitar 1,2 ton caisim. Sehingga produk tersebut terbuang begitu saja.

-
Proses panen di Twelve's Organic.

Saat awal bertani, modal yang digunakan adalah jerih payah dari memberi les Bahasa Inggris dan utang, juga ludes seketika. Mereka berlima mengumpulkan uang sedikit demi sedikit untuk modal bertani.

"Karena tak punya ilmu pertanian maupun bisnis, tahun pertama gagal total. Kami rugi, modal habis, punya utang juga," kata Maya kepada detikJatim di kebun Twelve Organic Dusun/Desa Claket.

[irp posts="2350" ]

Usai gagal, 3 sahabatnya mundur dan hanya menyisakan Maya dan Wita. Sahabanya yang bernama lengkap Herwita Rosalina alias Wita (35) tetap pada pendiriannya.

Pada awal 2009 kemudian mereka berdua, Maya dan Wita mendapatkan ide pemasaran. Dimana salah seorang konsumen tersebut menegur Maya lantaran tidak pernah ditawari sayur organik.

Karena tak punya modal, Maya dan Wita sebatas menjualkan produk pertanian organik dari petani lain. Ketika itu, ia memenuhi pesanan sebuah supermarket di Surabaya.

Kemudian, tahun 2010 mereka menyadari mengenai kualitas produk. Dari order sebuah supermarket inilah dua mahasiswi itu belajar kualitas produk, umur panen dan packaging. Sampai akhirnya mereka lulus kuliah tahun 2010.

Sempat mendapatkan stigma negatif mengani jualan sayur dan status Sarjana, Maya dan Wita tetap kukuh akan pendiriannya dalam membangun pertanian organik.

"Saat itu, kami distigma orang terdekat, ngapain sekolah tinggi-tinggi kalau jualan sayur. Juga kami dikira takut bersaing di dunia kerja," ungkapnya.

[irp posts="3040" ]

Penilaian tersebut justru membuat Wita dan Maya termotivasi membuktikan kapasitas mereka. Dua perempuan asal Pandugo Kelurahan Penjaringansari Rungkut Surabaya ini kemudian memutuskan bekerja di Bali.

Selama 2 tahun, mereka mampu bekerja di perusahaan milik orang Jerman dan Australia. Bahkan di awal 2012, mereka diminta menangani bisnis breakfast meeting milik orang Jerman dengan gaji dan fasilitas kerja yang luar biasa.

Namun, Maya dan Wita kemudian menolak perpanjangan kontrak kerja dan keduanya untuk kembali ke pertanian organik. Sebab mereka merasa sudah cukup membuktikan diri kepada keluarga masing-masing.

-
Salah satu petani mitra Twelve's Organic menunjukkan wortel hasil pertanian.

"Memang dinilai orang-orang sebagai pilihan bodoh. Namun, kalau tawaran itu saya ambil, mungkin berhasil, tapi dampaknya hanya untuk kami berdua, cerita itu hanya milik kami. Dengan pilihan ini, cerita juga milik mereka para petani organik," cetusnya.

Tahun 2012 menjadi era baru pertanian organik. Oleh sebab itu, mereka menamai komunitas petani organik di Desa Claket yang berdiri 2017 dengan Twelve's Organic. Namun di tahun 2012, mereka sebatas memasarkan produk para petani organik di wilayah Bromo, Malang dan Batu ke supermarket di berbagai daerah.

[irp posts="2398" ]

Dua sahabat ini lumayan sukses memasarkan produk pertanian organik tersebut. Mereka mengirim berton-ton sayur dan buah organik ke supermarket di kota besar di Jawa, hingga ke Balikpapan, Pontianak dan Batam.

Akhir 2014, Maya dan Wita kembali jatuh. Uang yang mereka miliki tinggal Rp 1 juta karena imbas negatif salah menjalin kerja sama dengan orang lain.

Saat itu, Maya dan Wita meminta tolong temannya yang pernah mereka bantu memasarkan produk pertanian organik. Teman itu lantas mengenalkan mereka dengan manajer perusahaan properti di Mojokerto yang bersedia bekerja sama. Kebetulan perusahaan itu mempunyai lahan nganggur di Kecamatan Trawas yang bisa digarap untuk pertanian organik.

"Dari kerja sama itu kami buka garden fresh market. Konsumen kami bawa ke kebun, bisa petik produk dari kebun langsung," jelasnya.

Kerja sama itu berbuah manis. Maya dan Wita akhirnya mampu menyewa kebun kembali di Desa Claket. Dua perempuan lajang ini kembali menekuni pertanian organik di desa tersebut sejak tahun 2017. Sampai kini mereka menggarap 13 kebun dan memberdayakan 13 emak-emak dan 1 pria sebagai mitra petani. Total kebun yang mereka garap sekitar 1,5 hektare.

"Keluarga baru sadar akan apa yang kami lakukan tahun 2017," tandas Maya.

[irp posts="1177" ]

Twelve's Organic yang didirikan Maya dan Wita menjadikan para pertani sebagai mitra. Mereka menyediakan lahan, benih, sarana produksi (saprodi), serta pemasaran hasil panen. Empat kelompok petani organik pun menyetorkan hasil panen kepada Twelve's Organic. Hasil panen mereka dibeli dengan harga yang sepadan.

Saat ini, Twelve's Organic menghasilkan 70 jenis buah, sayur dan umbi-umbian dari lahan 1,5 hektare. Antara lain sawi, bayam merah, selada hijau dan merah, romen hijau dan merah, penino, kenikir, ketela ungu, kuning dan oranye, bote, ganyong, singkong, bayam raja, labu siam, kentang, mocaf, timun, jagung, siomak, sawi putih, brokoli, terong, tomat, pokcoy, wortel, seledri, pagoda, beetroot, kale, lemon, serai dan caisim.

Untuk buah, kata Maya, Twelve's Organic fokus membudidayakan 4 jenis beri. Yaitu stroberi, rasberi, mulberry dan blackberry. Kini, komunitas petani organik ini mempunyai 300 pelanggan rumah tangga, 4 toko organik dan 3 reseller. Ratusan konsumen pertanian organik itu tersebar di Malang, Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Situbondo, Jakarta, Tangerang dan Bogor.

Setiap pekan, para petani Twelve's Organic bisa panen 3 kali. Setiap panen mereka mengirim produk 20-30 Kg kepada para konsumen. Omzet sekali kirim mencapai Rp 1,5-2 juta, atau Rp 5-7 juta setiap pekan. Artinya, omzet mereka setiap bulan mencapai Rp 20 juta.

Editor: Administrator

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Terkini

IHSG Kembali Merosot, Istina Bilang Begini

Senin, 2 Februari 2026 | 11:13 WIB

Janda di Mojokerto Rela Jadi Badut Demi 3 Buah Hati

Kamis, 1 Januari 2026 | 17:18 WIB
X