Kabar Mojokerto- Krisis air bersih yang melanda Desa Manduro Manggung Gajah, Ngoro, Kabupaten Mojokerto setiap musim kemarau selama 16 tahun terakhir, tak kunjung bisa diatasi pemerintah. Padahal, kampung di kaki Gunung Penanggungan sisi utara ini hanya butuh pengeboran sumber air.
Kepala Desa Manduro Manggung Gajah, Eka Dwi Firmansyah mengatakan, solusi menuntaskan krisis air bersih di desanya cukup sederhana. Yaitu pengeboran sumber air di Dusun Gajah Mungkur dan Buluresik. Jalan keluar ini ia peroleh setelah melalui kajian.
"Kajian kami pakai jasa pihak ketiga, memang ada 4 titik sumber air, 2 paling besar di Buluresik dan Gajah Mungkur. Kedalaman rata-rata 125 meter sudah ada sumber air," kata Eka kepada kabarmojokerto.id, Senin (14/8/2023).
Berbekal hasil kajian tersebut, Eka lantas mencari referensi ke tukang bor di Malang yang notabene ahli mengebor di pegunungan. Ternyata biaya pengeboran mencapai Rp 350 juta per titik. Biaya tersebut sudah termasuk mesin pompa air untuk mengalirkan ke tandon tower.
Barulah dari tandon tower, air bersih didistribusikan ke permukiman penduduk di Dusun Gajah Mungkur dan Buluresik memanfaatkan gaya gravitasi. Sehingga tak perlu biaya lagi untuk penyaluran kepada warga. Sebab titik pengeboran lebih tinggi daripada permukiman. Ia optimis pengeboran di 2 titik tersebut bakal menuntaskan krisis air bersih di desanya.
"Yang penting alatnya mumpuni dan pengalaman mengebor di dataran tinggi. Karena karakter tanahnya keras. Kedua, waktu minimal 3 bulan pengeboran. Sehingga tukang bornya lebih telaten," terangnya.
Eka mengaku sudah melaporkan kajian tersebut kepada Bappeda maupun Dinas PUPR Kabupaten Mojokerto. "Jawaban mereka hanya akan melaporkan ke atasan (Bupati Mojokerto)," ungkapnya.
Sejatinya Kementerian ESDM, lanjut Eka, pernah menunjuk rekanan untuk mengebor sumber air di Dusun Gajah Mungkur tahun 2020. Namun, titik pengeboran dipindah ke Dusun Buluresik paling bawah karena terbatasnya waktu. Sehingga sumber air tersebut tak bisa dimanfaatkan warga meskipun sudah mengeluarkan air.
Pasalnya, kata Eka, sumber air hasil pengeboran itu sekitar 2 Km di bawah permukiman penduduk. Warga memilih mengambil air bersih ke 2 perusahaan yang jaraknya sekitar 500 meter. Sedangkan jika dipompa ke tandon tower, jaraknya sekitar 3 Km.
"Jaraknya terlalu jauh, sekitar 3 Km ke tandon tower, itu pun estafet. Sudah pernah kami coba, pulsa listrik Rp 1 juta (untuk mesin pompa) habis dalam 3-4 hari sehingga malah susah. Lebih besar daripada beli air pakai truk tangki," jelasnya.
Bappeda Kabupaten Mojokerto melakukan kajian untuk menemukan solusi bagi 3 desa yang krisis air bersih. Yaitu Desa Manduro Manggung Gajah dan Kunjorowesi di Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas. Namun, sejauh ini kajian menggunakan jasa pihak ketiga itu belum membuahkan hasil.
Eka sendiri mengaku belum mengetahui adanya kajian tersebut. "Belum tahu. Mohon maaf bukan menampik hal itu. Itu isu setiap tahun, tidak ada realisasi," cetusnya.
Berdasarkan data yang dirilis BPBD Kabupaten Mojokerto, 4.937 jiwa mengalami krisis air bersih di Desa Kunjorowesi. Warga terdampak tersebar di Dusun Kandangan 3.312 jiwa atau 708 KK dan di Dusun Kunjoro 1.625 jiwa atau 848 KK.
Krisis air bersih dialami 1.861 jiwa penduduk Desa Manduro Manggung Gajah. Dengan rincian di Dusun Gajah Mungkur 865 jiwa atau 292 KK dan di Dusun Buluresik 996 jiwa atau 305 KK.
Sedangkan di Desa Duyung, krisis air bersih hanya terjadi di Dusun Bantal. Jumlah warga terdampak 791 jiwa atau 256 KK. Sehingga total 7.589 jiwa penduduk 3 desa tersebut yang mengalami krisis air bersih sejak Mei 2023.
Bantuan air bersih yang disalurkan BPBD Kabupaten Mojokerto sejak 12 Juni, terhenti sementara karena habisnya anggaran. Bantuan terakhir kali dikirim ke 3 desa krisis air bersih pada 1 Agustus lalu. Hingga kini, bantuan tersebut belum berlanjut.