Kabar Mojokerto - Pernikahan dini masih menjadi masalah besar di Indonesia, dengan banyaknya remaja yang menikah sebelum usia 18 tahun. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, remaja adalah kelompok usia antara 10 hingga 18 tahun, yang sering kali terjebak dalam pernikahan pada usia yang sangat muda.
Salah satu penyebab utama tingginya angka pernikahan dini adalah kurangnya pemahaman dan perhatian orang tua dalam mendidik anak. Tak jarang, orang tua memberikan kebebasan berlebihan tanpa pengawasan yang memadai, yang membuat anak-anak terlibat dalam pergaulan bebas dan berisiko hamil di luar nikah.
Menurut Psikolog dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Mojokerto, Salis Khoiriyati, faktor utama yang mendasari masalah ini adalah terbatasnya kualitas sumber daya manusia (SDM) orang tua.
Baca Juga: Angka Pernikahan Dini di Mojokerto Menurun, Faktor Pergaulan Bebas Masih Mendominasi
"Banyak orang tua yang menerapkan pola asuh permisif, yang membuat anak-anak terjerumus dalam pergaulan bebas," katanya kepada Kabar Mojokerto, Rabu, (19/2/2025).
Pola asuh yang tidak tegas ini, menurut Salis, berhubungan langsung dengan pengetahuan orang tua yang minim dalam membimbing anak menjadi pribadi yang baik.
Salis juga menyoroti bahwa di beberapa daerah, budaya patriarki yang masih kuat memperburuk keadaan, terutama di pedesaan, di mana perempuan sering kali ditempatkan pada posisi yang lebih rendah dalam masyarakat.
"Budaya patriarki masih sangat terasa, terutama di daerah pinggiran. Banyak orang tua yang menikahkan anak perempuan mereka pada usia muda karena kebiasaan yang sudah berlangsung turun temurun," tambahnya.
Namun, pemerintah telah berusaha untuk menanggulangi masalah ini melalui berbagai upaya, salah satunya dengan memberikan pendidikan kepada orang tua. Program Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH), yang digelar di desa-desa dalam beberapa tahun terakhir, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pengasuhan yang baik.
Namun, Salis menekankan bahwa program ini harus didukung oleh sektor lain, seperti pendidikan, penegakan hukum, dan kesehatan.
"Kolaborasi dari berbagai sektor sangat penting agar bisa menekan angka pernikahan dini dan mengurangi pergaulan bebas," ujar Salis.
Ia juga berharap angka pernikahan dini dapat terus menurun setiap tahun, dan bukan hanya menjadi fenomena yang tidak terdeteksi, seperti gunung es yang hanya terlihat sebagian.
Artikel Terkait
Anggaran Terancam Dipangkas, Rehabilitasi Puluhan Sekolah Rusak di Mojokerto 2025 Tertunda
Operasi Keselamatan Semeru 2025 Satlantas Mojokerto Bagi Helm dan Camilan, Edukasi Pengendara Agar Patuh Lalu Lintas
Angka Pernikahan Dini di Mojokerto Menurun, Faktor Pergaulan Bebas Masih Mendominasi
Maling Sepeda Motor Trekam CCTV, Warkop Tribuana Mojokerto Jadi Sasaran