Berkah Kemarau, Industri Batu Bata Cetak di Mojokerto Alami Lonjakan Omzet!

Photo Author
Muhammad Siswanto, Kabar Mojokerto
- Kamis, 10 Oktober 2024 | 17:56 WIB
Nurman (57), seorang pemilik pabrik batu bata di Mojokerto alami kenaikan omzet dari musim kemarau yang melanda.
Nurman (57), seorang pemilik pabrik batu bata di Mojokerto alami kenaikan omzet dari musim kemarau yang melanda.

Kabar Mojokerto - Musim kemarau membawa berkah bagi pembuat batu bata merah di Mojokerto, khususnya bagi Nurman (57), pemilik industri batu bata di Dusun Mojoroto, Desa Mojotamping, Bangsal. Dengan cuaca kering, proses produksi batu bata menjadi lebih cepat, sehingga omzetnya pun meningkat.

Nurman memanfaatkan musim kemarau untuk mengenjot produksi, mengingat salah satu tahapan terlama dalam pembuatan batu bata adalah proses pengeringan. "Di musim kemarau, batu bata bisa kering dalam 1-3 hari, sedangkan di musim hujan bisa memakan waktu hingga 7 hari," ungkap Nurman saat ditemui tim Kabar Mojokerto pada, Rabu (9/10/2024).

Ia menjelaskan bahwa musim kemarau merupakan kesempatan emas untuk memproduksi sebanyak mungkin batu bata. "Musim kemarau ini adalah gantinya musim hujan. Kami berusaha mempercepat produksi agar bisa segera membakar dan mendapatkan uang," tambahnya.

Baca Juga: Harga Sembako Mojokerto Hari Ini 4 Oktober 2024

Namun, meski produksi meningkat, harga batu bata justru mengalami penurunan. Dari harga semula Rp 500 ribu per seribu bata, kini menjadi Rp 470 ribu - 480 ribu, tergantung pada kualitas. "Stok bata semakin banyak karena banyak yang ingin cepat membakar," jelas Nurman.

Penurunan harga tidak menghalangi proses produksi. Ia menyebut mampu membakar hingga 24 ribu batu bata dalam sebulan saat musim kemarau, sementara di musim hujan bisa memakan waktu dua bulan. "Meskipun harganya turun, perputaran uang tetap meningkat karena proses yang lebih cepat," katanya.

Nurman sudah terjun dalam industri batu bata cetak selama lima tahun dan memproduksi ribuan batu bata di sawah dekat rumahnya dengan bantuan dua karyawan. Proses pembuatan meliputi pembelian tanah merah, penggilingan, pencetakan, pengeringan, dan pembakaran.

Ia juga mengandalkan kayu dari limbah pabrik sebagai bahan bakar pembakaran, yang dibeli seharga Rp 1,9 juta. Batu bata hasil produksinya biasanya diborong oleh pengepul, meski Nurman juga mengirimkan sendiri jika ada pesanan.

Baca Juga: Berawal dari Otodidak, Perajin Kepala Bantengan di Mojokerto Raup Cuan Puluhan Juta Per Bulan

Nurman optimis meskipun tidak ada pesanan, produksi batu bata tetap berlangsung karena telah menjadi bagian dari industrinya. "Setiap habis bakar, pasti ada pembelinya. Jadi, produksi akan terus berjalan," tutupnya.

Dengan memanfaatkan musim kemarau, Nurman berharap usaha batu bata merahnya semakin berkembang dan memberi dampak positif bagi perekonomian lokal.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

IHSG Kembali Merosot, Istina Bilang Begini

Senin, 2 Februari 2026 | 11:13 WIB

Janda di Mojokerto Rela Jadi Badut Demi 3 Buah Hati

Kamis, 1 Januari 2026 | 17:18 WIB
X