ekonomi-bisnis

Harga Kedelai Impor Naik, Perajin di Mojokerto Terpaksa Kurangi Ukuran Tempe

Sabtu, 26 April 2025 | 07:00 WIB
Mohammad Tohan, perajin tempe di Dusun Sroyo, Desa/Kecamatan Dlanggu, Mojokerto, sedang mengolah kedelai. Ia mengelukan kenaikan harga kedelai impor. (Muhammad Lutfi Hermansyah)

Bersama dua pegawainya, ia mampu mengolah 400 kg kedelai impor dalam sehari. Dengan kenaikan harga ini, ia tidak mengurangi jumlah produksi dan tidak menaikkan harga jual. Karena khawatir  akan mempengaruhi minat pelanggan. Hanya saja ia mensiasati dengan mengurangi ukuran tempe.

 

Ia memproduksi tempe dengan dua ukuran cetakan. Yaitu, 2 meter x 14 cm dan 180 meter x 30 cm. Masing-masing ketebalannya 4,5 cm.

 

“Kita memmperkecil ukuran dari biasanya. Setiap cetakan dikurang 2 mili,” ujar bapak dua anak ini.

 

Tempe buatan Toha selama ini dipasarkan ke pasar tradisional di Mojokerto, yaitu Pasar Tangunan, Pandanarum, Sawahan dan  Dlanggu. Ia juga melayani sejumlah pedagang eceran yang biasa keliling ke kampung-kampung.

 

“Hargaya per cetakan Rp 50 ribu untuk bakul (pedang). Kalau dijual eceren Rp 60 ribu,” tandasnya.

Baca Juga: Produsen Miras Impor Palsu di Mojokerto Pakai Bahan Baku Etanol-Arak Bali

Toha menambahkan, lonjakan harga kedelai impor  berdampak langsung pada ongkos produksi dan keuntungan yang didapat. “(Keuntungan menurun) 30 persen,” tandasnya.

Mohammad Toha, produsen tempe di Dusun Sroyo, Desa/Kecamatan Dlanggu, Mojokerto. (Muhammad Lutfi Hermansyah)


Ia berharap pemerintah dapat turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai impor agar masyarakat tetap bisa menikmati  tempe dengan harga yang terjangkau.

 

“Harapannya harga dibawah Rp 9 ribu. Karena kasihan pedagang  yang kecil-kecil. Kita juga Buat beli kayu dan gaji karyawan,” pungkas Toha.

Halaman:

Tags

Terkini

IHSG Kembali Merosot, Istina Bilang Begini

Senin, 2 Februari 2026 | 11:13 WIB

Janda di Mojokerto Rela Jadi Badut Demi 3 Buah Hati

Kamis, 1 Januari 2026 | 17:18 WIB