peristiwa

Iron Dome Milik Israel Kewalahan Hadapi Serangan Rudal Iran, Ini Penyebabnya

Selasa, 17 Juni 2025 | 17:57 WIB
Rudal balistik diluncurkan dari Iran ke Israel sebagai balasan atas serangan udara terhadap target-target Iran (Al Jazeera/Abir Sultan)

Kabar Mojokerto - Sistem pertahanan udara andalan Israel, Iron Dome, mengalami ujian berat saat Iran menggempur wilayahnya dengan ratusan rudal sejak 13 Juni lalu. Serangan itu merupakan respons langsung atas aksi militer Israel yang sebelumnya menyasar sejumlah lokasi vital di Teheran, termasuk fasilitas nuklir dan wilayah pemukiman warga.

Dalam serangan balas dendam tersebut, Iran diduga menggunakan berbagai jenis senjata canggih, seperti rudal balistik Emad, Ghadr-1, hingga Fattah-1, yakni rudal hipersonik pertama yang dikembangkan Iran.

Meskipun belum ada konfirmasi resmi dari Teheran, sejumlah analis militer menilai bahwa skala dan dampak serangan menunjukkan keterlibatan senjata dengan kemampuan lintas sistem pertahanan.

Baca Juga: Ketua PBNU Gus Ulil Dikecam Usai Labeli Aktivis Lingkungan sebagai Wahabi

Yang menjadi pertanyaan besar adalah, mengapa Iron Dome, sistem yang selama ini dipuji sebagai perisai udara tercanggih, terlihat tidak mampu menahan gempuran?

Melansir ABC News, Selasa (17/6/2025), Iron Dome dirancang untuk menghadang roket dan proyektil jarak pendek dengan jangkauan sekitar 70 kilometer. Sistem ini dilengkapi radar yang dapat mendeteksi peluncuran rudal musuh, menganalisis titik jatuhnya, lalu mengaktifkan peluncuran rudal Tamir jika ancaman tersebut berpotensi menimpa wilayah sensitif atau padat penduduk.

Setiap baterai Iron Dome terdiri dari tiga hingga empat peluncur, dan masing-masing peluncur dapat menampung hingga 20 rudal pencegat. Artinya, kapasitasnya terbatas, terutama jika serangan dilakukan secara simultan dalam jumlah besar.

Malcolm Davis, analis senior di Australian Strategic Policy Institute, menyampaikan bahwa titik lemah Iron Dome dan semua sistem pertahanan udara modern adalah pada volume serangan.

"Salah satu cara paling efektif untuk melumpuhkan sistem seperti ini adalah dengan membanjirinya secara bersamaan. Ini bukan hanya kelemahan Iron Dome, tapi berlaku pada hampir semua sistem pertahanan udara," kata Davis dalam wawancaranya dengan ABC News pada Oktober 2023 lalu.

Baca Juga: Ancaman Bom, Pesawat Saudia Airlines Angkut Jemaah Haji Indonesia Mendarat Darurat di Kualanamu

Davis menambahkan, begitu sistem kehabisan rudal pencegat atau tidak dapat merespons secara paralel terhadap banyak target, maka kebocoran proyektil tidak terelakkan.

Meskipun demikian, Iron Dome hanyalah satu bagian dari skema pertahanan udara berlapis yang dimiliki Israel. Untuk ancaman menengah, Israel mengandalkan sistem David’s Sling, yang dapat mencegat rudal hingga jarak 299 kilometer dengan metode hit to kill.

Sementara untuk pertahanan tingkat atas, terdapat sistem Arrow 2 dan Arrow 3. Arrow 2 dirancang untuk mencegat rudal balistik dalam fase terminal yakni saat rudal mulai menukik ke sasaran. Sedangkan Arrow 3 mampu menghadang rudal balistik di luar atmosfer bumi, sebelum proyektil masuk ke wilayah udara Israel.

Para pejabat Israel sendiri telah berulang kali menyatakan bahwa tidak ada sistem pertahanan udara yang benar-benar sempurna. Prioritas dari sistem seperti Iron Dome adalah untuk melindungi area strategis dan pemukiman warga, bukan mencegat setiap proyektil musuh yang masuk.

Halaman:

Tags

Terkini