Kabar Mojokerto - Meskipun air bersih telah didistribusikan setiap hari, krisis air bersih di Mojokerto belum sepenuhnya teratasi. Tiga kecamatan, yaitu Ngoro, Trawas, dan Dawarblandong, serta empat desa di daerah tersebut mengalami dampak serius akibat kekeringan.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Mojokerto, Abdul Khakim, menjelaskan bahwa penyebab utama kekeringan adalah musim kemarau panjang dan kurangnya sumber mata air. Di Desa Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah, Kecamatan Ngoro, terdapat empat dusun yang sangat terdampak, dengan total 6.798 jiwa dari 2.155 kepala keluarga.
“Penyebab utama adalah musim kemarau yang berkepanjangan, sehingga air bersih sulit didapat. Di Kunjorowesi dan Manduro Manggung Gajah, tidak ada sumber mata air sama sekali,” ujar Khakim.
Baca Juga: Laka Lantas Truk Vs Motor, Tewaskan 1 Guru SMP di Mojokerto
Selain Kecamatan Ngoro, Kecamatan Trawas dan Dawarblandong juga merasakan dampak krisis air bersih. Di Kecamatan Dawarblandong, BPBD telah melakukan droping air bersih setiap hari sejak 1 Oktober, dengan dua tangki berkapasitas 5.000 liter.
Dalam upaya mengatasi masalah ini, BPBD mendistribusikan 4-5 tangki air bersih berkapasitas 4-5 ribu liter ke desa-desa terdampak. Contohnya, Desa Simongagrok di Kecamatan Dawarblandong menerima dua tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.
Selain air bersih, bantuan lain juga telah disalurkan, termasuk jiregen, sembako, dan tandon. Namun, rencana pipanisasi di wilayah Trawas terhambat karena penolakan warga Desa Dlundung terhadap aliran sumber mata air ke Desa Simongagrok.
“Kami masih mengkaji pipanisasi ini. Jika warga Dlundung tetap menolak, kami akan mencari sumber air alternatif dari Sumber Gempong,” jelas Khakim.
Khakim juga menambahkan bahwa selain bantuan dari BPBD, dukungan datang dari donatur, Polri Bhayangkari, dan Basnas. “Bantuan untuk Kunjorowesi berasal langsung dari donatur ke desa,” tandasnya.