Kabar Mojokerto - Pemerintah Kabupaten Mojokerto telah menetapkan status tanggap darurat bencana akibat dampak cuaca ekstrem yang menyebabkan berbagai bencana alam di wilayah tersebut.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Yoi Afrida Soesetyo Djati, mengungkapkan keputusan terkait status tanggap darurat telah ditandatangani pada sore hari, yang memungkinkan penanganan bencana dilakukan dengan segera.
“Kami telah menandatangani SK tanggap darurat sore ini, yang berarti penanganan bencana alam bisa segera dilaksanakan,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Mojokerto, Yoi Afrida Soesetyo Djati, kepada wartawan, Selasa (10/12/2024).
Baca Juga: Simak 5 Cara Menjaga Kesehatan Tubuh Pasca Banjir
Menurut data dari BPBD Kabupaten Mojokerto, sejak 5 Desember 2024 telah terjadi beberapa bencana alam, termasuk banjir, pohon tumbang, dan tanah longsor.
Saat ini, Yoi menyatakan masih ada 3 desa yang tergenang banjir, yakni Desa Tempuran, Ngingasrembyong, dan Mojoranu di Kecamatan Sooko. Banjir ini disebabkan oleh meluapnya sungai Avur Watudakon dan Jombok yang mengarah ke aliran Dam Sipon Pagerluyung. Selain itu, banyaknya tanaman eceng gondok yang menghambat aliran sungai turut memperburuk keadaan.
"Ketinggian air saat ini mencapai antara 70 sentimeter hingga 1 meter," tambah Yoi.
Sebanyak 3.275 jiwa terdampak oleh banjir ini, dengan rincian 1.075 jiwa di Desa Ngingasrembyong, 400 jiwa di Desa Mojoranu, dan 1.800 jiwa di Desa Tempuran. Selain rumah warga, fasilitas umum seperti sekolah, gereja, dan kantor desa di Desa Tempuran juga terendam.
Baca Juga: Prediksi BMKG: Mojokerto Dilanda Hujan Petir Hingga 5 Hari Mendatang
Beberapa warga memilih mengungsi ke rumah keluarga mereka yang lebih aman, sementara lainnya mengungsi di masjid, balai desa, dan dusun. BPBD juga telah menyiapkan tenda pengungsian untuk membantu korban.
Untuk penanggulangan banjir, dua alat berat telah dikerahkan untuk membersihkan dan menormalisasi aliran sungai. Selain itu, bantuan pompa portabel dari Provinsi Jawa Timur juga diterima.
"Air akan disedot dan dialirkan ke Sungai Brantas. Saat ini, kebutuhan yang mendesak adalah MCK portabel dan pasokan air bersih," ujar Yoi.