peristiwa

Banjir Bikin Aktivitas Sekolah di Desa Tempuran Mojokerto Terganggu

Jumat, 24 Januari 2025 | 11:22 WIB
Berjuang di tengah banjir, anak-anak SDN Tempuran tetap semangat menuju kelas meski harus berjalan di genangan air. (M Lutfi Hermansyah)

Kabar Mojokerto - Banjir telah merendam SDN Tempuran, Sooko, Mojokerto selama dua hari sejak Kamis (23/1/2025). Kondisi ini menyebabkan aktivitas sekolah terganggu.

Pantauan Kabar Mojokerto pada Jumat (24/1/2025), halaman SDN Tempuran tampak digenangi banjir sekitar 15 cm. Banjir juga merendam teras serta ruang kelas 4, 5, dan 6.

Untungnya, banjir tidak sampai masuk ke ruang lainnya, sehingga aktivitas belajar mengajar masih dapat berlangsung meski banyak siswa yang berangkat sekolah menggunakan sandal.

Baca Juga: Kecelakaan CBR150R Vs Mio di Trawas Mojokerto, 1 Tewas

Kegiatan belajar mengajar di SDN Tempuran terpaksa pindah ke ruang yang aman dari banjir. (M Lutfi Hermansyah)

Kegiatan belajar mengajar untuk siswa-siswi kelas 4 dialihkan ke ruang UKS, kelas 5 ke ruang gudang atau ruang yang semula kosong, dan kelas 6 ke Musala.

Menurut salah satu guru SDN Tempuran, Muhammad Anshor, banjir disebabkan melubernya Sungai Avur Watudakon pada Kamis (23/1/2025) dini hari, setelah wilayah Mojokerto diguyur hujan deras.

“Secara umum, aktivitas sekolah terganggu. Anak-anak yang biasanya berolahraga di halaman, otomatis diliburkan. Biasanya, pada hari Jumat ada istighosah di Musala, juga ditiadakan,” katanya kepada Kabar Mojokerto, Jumat (24/1/2025).

Selain itu, para siswa juga diminta untuk tetap berada di dalam kelas saat jam istirahat, guna meminimalkan risiko kejadian yang tidak diinginkan.

Berjuang di tengah banjir, anak-anak SDN Tempuran tetap semangat menuju kelas meski harus berjalan di genangan air. (M Lutfi Hermansyah)

Baca Juga: Banjir Kembali Terjang Desa Tempuran Mojokerto, Rumah dan Fasum Terendam

“Anak-anak tidak istirahat di luar, istirahatnya di dalam kelas. Kalau memang mau makan, ya di dalam kelas,” ujar Anshor.

Anshor menyebutkan, banjir luapan Sungai Avur Watudakon tersebut sudah menjadi langganan setiap tahun. Bahkan dalam setahun bisa terjadi dua kali pada musim hujan.

“Harapannya, segera ada penanganan dari pihak terkait agar sekolah kami tidak terkena imbasnya. Terutama bangunan kelas yang terkena banjir bisa ditinggikan,” ungkapnya.

Halaman:

Tags

Terkini