Kabar Mojokerto- Pasar Kranggan merupakan salah satu pasar di Kota Mojokerto yang ada sejak masa kolonial. Namun sayangnya, eksistensi pasar Kranggan saat ini kian redup.
Menurut Praktisi sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq, setidaknya ada empat titik pasar di Kota Mojokerto pada masa prakemerdekaan. Yaitu, Pasar Tanjunganyar, Pahing, Kranggan dan Pon. Untuk Pasar Pon khusus untuk jual-beli hewan ternak.
Pasar Kranggan sendiri dibangun mulai tahun 1937. Keberadaan pasar ini menjadi solusi para asisten rumah tangga (ART) di sekitar untuk belanja kebutuhan dapur. Sebab jika harus ke Pasar Kliwon atau Tanjung Anyar harus menempuh jarak jauh dan memakan waktu.
“Untuk mengatasi problem itu para babu bersekutu dengan pedagang keliling yang dikenal sebagai mlijo. Para babu itu menunggu mlijo di pertigaan Kranggan. Di atas trotoar para babu itu bertransaksi dengan mlijo,” katanya Yuhan dalam sebuah artikelnya.
Saking seringnya, lama kelamaan jalan simpang tiga Kranggan berubah menjadi pasar pagi bagi para ART. Hal serupa juga terjadi di simpang tiga Penarip.
Baca Juga: Cerita Sukses Pengusaha Krupuk Singkong di Mojokerto, Raup Omzet Puluhan Juta
Berlatarbelakang itulah pemerintah daerah mendirikan Pasar Kranggan. Di mana, sebelumnya hanya 3 pasar di Kota Mojokerto. Itu pun, Pasar Kliwon dan Pasar Tanjung Anyar kondisinya juga sudah overload.
“Melihat kenyataan itu, pemerintah kota segera menyimpulkan bahwa tempat strategis untuk mendirikan pasar lagi adalah di daerah Kranggan. Dengan bertambahnya pasar maka pendapatan pemerintah yang bersumber dari retribusi bisa ditingkatkan,” ungkapnya.
Lokasinya berada di Kediristraat atau kini bernama Jalan Mojopahit di Lingkungan Penarip, Kelurahan/Kecamatan Kranggan. Proses pembuatan lapak di Pasar Kranggan dibuat berjajar dengan pemisah berupa lorong jalan. Setiap lapak didesain sederhana dan disewakan perharinya.
“Pada tahun 1938 Pasar Kranggan diresmikan untuk mengganti pasar dadakan di Gatoel dan Penarip. Para babu (ART) tidak perlu lagi berdiri menunggu mlijo langganannya datang. Barang kebutuhan sudah bisa didapatkan di Pasar Kranggan tersebut,” ungkap Yuhan.
Seolah beradaptasi dengan zaman, saat ini banyak berdiri ruko di area Pasar Kranggan, paling banyak untuk konter ponsel dan kuliner. Sedangkan lapak-lapak yang menjual kebutuhan pokok jarang terlihat.
Artikel Terkait
Cerita Legenda dan Asal Usul Nama Desa Berat Wetan di Mojokerto
Sejarah Berdirinya Klenteng Hok Sian Kiong di Mojokerto
Keseruan Berebut Gunungan Hasil Bumi-Jajan Pasar Tradisi Sedekah Bumi Warga di Mojokerto
Arsip Pernikahan Tertua di Mojokerto, Tertulis dalam Arab Pegon dan Bertahan Hingga 1 Abad