Kabar Mojokerto - Diperjuangkan tiga tokoh pribumi, sekolah perempuan pertama di Mojokerto hadir sebagai tonggak emansipasi di tengah dominasi kolonial.
Pada bulan November 1909, Mojokerto mencatat sejarah penting dengan berdirinya Inlandsch Meisjesschool, sekolah formal pertama bagi perempuan pribumi.
Menurut sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq (Yuhan), inisiatif pendirian sekolah ini muncul dari keresahan tiga tokoh pribumi atas ketimpangan akses pendidikan bagi anak perempuan.
"Sekolah ini menjadi wujud nyata dari semangat Kartini yang mulai bergema di daerah-daerah, termasuk Mojokerto," ujar Yuhan dalam wawancara eksklusif.
Ketiga tokoh tersebut adalah Mas Ngabehi Kartowisastro, Mas Reksodiwirjo, dan Raden Sosrodihardjo atau lebih dikenal sebagai Soekemi, ayah dari Soekarno.
Sebagai camat Jabon, Mas Ngabehi Kartowisastro merasakan langsung diskriminasi sistem pendidikan kolonial terhadap anak-anak priyayi rendahan.
Baca Juga: Sejarah dan Mitos Rabu Wekasan, Berikut Amalan yang Disarankan
"Ketimpangan itulah yang memicu semangat mereka untuk mendirikan sekolah, agar anak-anak perempuan juga punya hak belajar," terang Yuhan.
Pendidikan di Inlandsch Meisjesschool menekankan keterampilan domestik seperti menjahit dan memasak, namun tetap mengajarkan baca-tulis dan berhitung.
Sekolah ini mendapat sambutan luar biasa dengan 80 murid perempuan terdaftar dan iuran bulanan sebesar 2,5 gulden.
Menurut Yuhan, partisipasi sebesar itu menunjukkan betapa hausnya masyarakat akan pendidikan bagi perempuan, meski harus membayar biaya cukup tinggi.
Yang menarik, seorang guru berkebangsaan Eropa direkrut untuk mengajar di sekolah ini demi menjaga kualitas pengajaran.
Baca Juga: Kala Mojokerto Jatuh ke Tangan Belanda, Pengibaran Bendera Merah Putih Dilarang
Ketiganya juga menggagas sistem donasi dari para priyayi dan tokoh masyarakat untuk menutup kekurangan biaya operasional.
Artikel Terkait
Sejarah Hari Pramuka 14 Agustus yang Wajib Kamu Tahu di Peringatan ke-64
Menilik Kehidupan Buruh Pabrik Gula di Mojokerto pada Masa Hindia Belanda
Beginilah Suasana Upacara 17 Agustus Perdana di Mojokerto
Kala Mojokerto Jatuh ke Tangan Belanda, Pengibaran Bendera Merah Putih Dilarang
Sejarah dan Mitos Rabu Wekasan, Berikut Amalan yang Disarankan