Awal Mula Berdirinya Sekolah Khusus Perempuan di Mojokerto pada Era Kolonial

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 08:00 WIB
Para murid Inlandsche Meisjesschool di Mojokerto berpose bersama guru berkebangsaan Eropa, cerminan awal emansipasi pendidikan perempuan pribumi pada era kolonial, 1909. (Arsip Sejarahj Mojokerto, Ayuhanafiq)
Para murid Inlandsche Meisjesschool di Mojokerto berpose bersama guru berkebangsaan Eropa, cerminan awal emansipasi pendidikan perempuan pribumi pada era kolonial, 1909. (Arsip Sejarahj Mojokerto, Ayuhanafiq)

Kabar Mojokerto - Diperjuangkan tiga tokoh pribumi, sekolah perempuan pertama di Mojokerto hadir sebagai tonggak emansipasi di tengah dominasi kolonial.

Pada bulan November 1909, Mojokerto mencatat sejarah penting dengan berdirinya Inlandsch Meisjesschool, sekolah formal pertama bagi perempuan pribumi.

Menurut sejarawan Mojokerto Ayuhanafiq (Yuhan), inisiatif pendirian sekolah ini muncul dari keresahan tiga tokoh pribumi atas ketimpangan akses pendidikan bagi anak perempuan.

"Sekolah ini menjadi wujud nyata dari semangat Kartini yang mulai bergema di daerah-daerah, termasuk Mojokerto," ujar Yuhan dalam wawancara eksklusif.

Ketiga tokoh tersebut adalah Mas Ngabehi Kartowisastro, Mas Reksodiwirjo, dan Raden Sosrodihardjo atau lebih dikenal sebagai Soekemi, ayah dari Soekarno.

Sebagai camat Jabon, Mas Ngabehi Kartowisastro merasakan langsung diskriminasi sistem pendidikan kolonial terhadap anak-anak priyayi rendahan.

Baca Juga: Sejarah dan Mitos Rabu Wekasan, Berikut Amalan yang Disarankan

"Ketimpangan itulah yang memicu semangat mereka untuk mendirikan sekolah, agar anak-anak perempuan juga punya hak belajar," terang Yuhan.

Pendidikan di Inlandsch Meisjesschool menekankan keterampilan domestik seperti menjahit dan memasak, namun tetap mengajarkan baca-tulis dan berhitung.

Sekolah ini mendapat sambutan luar biasa dengan 80 murid perempuan terdaftar dan iuran bulanan sebesar 2,5 gulden.

Menurut Yuhan, partisipasi sebesar itu menunjukkan betapa hausnya masyarakat akan pendidikan bagi perempuan, meski harus membayar biaya cukup tinggi.

Yang menarik, seorang guru berkebangsaan Eropa direkrut untuk mengajar di sekolah ini demi menjaga kualitas pengajaran.

Baca Juga: Kala Mojokerto Jatuh ke Tangan Belanda, Pengibaran Bendera Merah Putih Dilarang

Ketiganya juga menggagas sistem donasi dari para priyayi dan tokoh masyarakat untuk menutup kekurangan biaya operasional.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X