Sejarah Hari Juang Polri: Saat Polisi Jadi Garda Terdepan Bela Indonesia

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Kamis, 21 Agustus 2025 | 10:55 WIB
Monumen Polisi (Dok. Humas Polri)
Monumen Polisi (Dok. Humas Polri)

Kabar Mojokerto - Hari Juang Polri yang kini diperingati setiap 21 Agustus bukan sekadar seremoni, melainkan pengakuan atas kiprah nyata polisi dalam lembaran awal kemerdekaan Indonesia.

Penetapan hari bersejarah ini resmi dicantumkan dalam dua keputusan penting Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada awal dan pertengahan tahun 2024.

Melansir laman resmi Humas Polri, Keputusan Kapolri Nomor 95/I/2024 pada 22 Januari menetapkan tanggal peringatan, sementara Keputusan Nomor KEP/1325/VII/2024 pada 12 Agustus mengatur tata cara upacaranya.

Dengan ditetapkannya Hari Juang Polri, publik diingatkan bahwa institusi kepolisian punya peran strategis dalam mempertahankan kemerdekaan sejak hari-hari pertama republik berdiri.

Baca Juga: Sejarah dan Mitos Rabu Wekasan, Berikut Amalan yang Disarankan

21 Agustus 1945: Hari Lahir Polisi Republik Indonesia

Dua hari setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, sebuah peristiwa penting terjadi di tubuh aparat keamanan.

Pada 21 Agustus 1945, Inspektur Polisi Kelas I Moehammad Jasin memproklamasikan berdirinya Polisi Republik Indonesia yang bertransformasi dari satuan Polisi Istimewa bentukan Jepang.

Jasin bersama pasukannya bukan hanya menjaga ketertiban, tetapi turut angkat senjata dalam pertempuran-pertempuran penting, salah satunya di Surabaya.

Polisi Istimewa saat itu telah memiliki struktur dan kemampuan militer yang memadai untuk mendukung perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan.

Peristiwa ini menjadi titik awal bahwa polisi bukan hanya pelindung, tetapi juga petarung yang berdiri di sisi rakyat.

Baca Juga: Kala Mojokerto Jatuh ke Tangan Belanda, Pengibaran Bendera Merah Putih Dilarang

Perjalanan Panjang Menuju Pengakuan Resmi

Meski kontribusinya besar, Hari Juang Polri baru diusulkan secara resmi pada 2010 oleh Komjen Pol (Purn) Arif Wachyunadi.

Melalui berbagai diskusi sejarah, seminar, hingga keterlibatan akademisi, gagasan itu terus digulirkan untuk mendapat legitimasi.

Langkah penting lainnya terjadi ketika pemerintah mengangkat Moehammad Jasin sebagai Pahlawan Nasional pada 2015, memperkuat landasan historis peringatan ini.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X