Kabar Mojokerto - Penganan krisis air bersih di 3 desa Mojokerto dengan cara distribusi air (dropping) masih belum efektif dalam mengatasi kekeringan. Sebab, distribusi air bersih bukan solusi utama atau hanya bersifat jangka pendek.
Oleh sebab itulah, perlu ada solusi permanen untuk mengatasi bencana kekeringan yang melanda 3 desa di kaki Gunungan Penanggungan Mojokerto. Meliputi Desa Kunjorowesi dan Manduromanggunggajah, Kecamatan Ngoro, serta Desa Duyung di Kecamatan Trawas.
Pemerintah desa (Pemdes) ketiga desa tersebut memilik harapan yang sama untuk mengatasi kekeringan. Yakni, berharap pemerintah daerah memberikan bantuan pompa air tenaga surya.
Kepala Desa Duyung Jurianto Bambang Siswantoro mengatakan, krisis air bersih melanda warganya di Dusun Duyung dan Dusun Bantal sejak Juli 2025. Tercatat, sebanyak 114 keluarga terdampak.
Menurut dia, krisis air bersih ini terjadi karena sumber mata air di Dusun Bantal lebih rendah dari permukiman penduduk.
Selain itu, debit air terus mengecil saat musim kemarau tiba. Karena, airdialirkan melalui pipa sekitar 3,5 Km dari Desa Tamiajeng. Kondisi seperti ini dialami warga Dusun Duyung dan Dusun Banta lebih dari 15 tahun.
Artikel Terkait
Terbelit Birokrasi, Bantuan Air Bersih untuk 3 Desa Terdampak Kekeringan di Mojokerto Terhenti
16 Tahun Krisis Air Bersih, Desa di Mojokerto Ini Hanya Butuh Pengeboran Sumber Air
Berbagai Upaya Dilakukan Bupati Mojokerto Atasi Kekeringan di Desa Kunjorowesi
Krisis Air Bersih Meluas di Mojokerto, Bertambah 3 Kecamatan
Suplai Air Bersih di Hentikan, Krisis Air Bersih Tetap Melanda di 3 Kecamatan Mojokerto