Kabar Mojokerto - Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada perdagangan hari ini, Selasa (15/7/2025). Penurunan ini terjadi seiring dengan melemahnya harga emas global yang tengah berada dalam tren korektif.
Untuk hari ini, emas Antam dipasarkan dengan harga Rp 1.914.000 per gram, turun Rp 10.000 dibandingkan dengan harga kemarin. Sementara itu, harga buyback atau pembelian kembali oleh Antam juga menyusut sebesar Rp 10.000 menjadi Rp 1.758.000 per gram.
Baca Juga: Kenali Ciri-ciri Beras Oplosan Menurut Profesor IPB
Berikut daftar harga emas Logam Mulia Antam selengkapnya untuk hari ini:
Harga emas global terkoreksi
Fluktuasi harga emas dunia turut memengaruhi harga logam mulia domestik. Berdasarkan data pasar spot, harga emas global ditutup di level US$ 3.346,1 per troy ons, mengalami penurunan sebesar 0,32% dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
Koreksi ini diduga terjadi akibat aksi ambil untung (profit taking) setelah harga emas mencatatkan kenaikan beruntun selama tiga hari sebelumnya. Dalam periode tersebut, harga emas global sempat menguat 1,67% secara akumulatif. Bahkan, jika dilihat dalam sepekan terakhir, logam mulia ini masih mencatat kenaikan sebesar 0,51%.
Namun, ketika harga telah menanjak cukup tinggi, investor kerap mengambil momentum untuk mencairkan keuntungan. Situasi ini kerap memicu tekanan jual di pasar emas dan menyebabkan harganya turun.
Baca Juga: KAI Permudah Warga Mojokerto, Tiket Kereta Kini Bisa Dipesan 30 Menit Sebelum Berangkat
Reaksi pasar terhadap isu tarif AS
Selain faktor teknikal, sentimen geopolitik dan kebijakan perdagangan juga turut memengaruhi dinamika pasar emas. Baru-baru ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan ancaman tarif impor sebesar 30% terhadap produk asal Uni Eropa dan Meksiko, yang rencananya akan diberlakukan mulai 1 Agustus.
Meski demikian, pelaku pasar tampaknya tidak lagi terlalu terpancing oleh manuver semacam ini. Banyak yang menilai bahwa pernyataan tersebut lebih bersifat strategis sebagai bagian dari taktik negosiasi.
"Kami melihat langkah terbaru dari Gedung Putih sebagai strategi negosiasi. Proyeksi kami, tarif impor yang akan diterapkan kemungkinan berada di kisaran 15%," ujar Mark Haefele dari UBS Global Wealth Management, dikutip dari Bloomberg.
Artikel Terkait
Harga Emas di Pegadaian Hari Ini: Antam Masih Absen, UBS dan Galeri 24 Naik Tipis
Profil Tina Talisa: Stafsus Gibran yang Kini Jadi Komisaris Anak Perusahaan Pertamina
KAI Permudah Warga Mojokerto, Tiket Kereta Kini Bisa Dipesan 30 Menit Sebelum Berangkat
Kenali Ciri-ciri Beras Oplosan Menurut Profesor IPB