Wabup Mojokerto Beberkan Strategi Tekan Angka Balita Stunting

Photo Author
Deni Lukmantara, Kabar Mojokerto
- Kamis, 12 Juni 2025 | 07:12 WIB
Wakil Bupati Muhammad Rizal Octavian membeberkan strategi menekan angka balita stunting. (Dok. Diskominfo Kabupaten Mojokerto)
Wakil Bupati Muhammad Rizal Octavian membeberkan strategi menekan angka balita stunting. (Dok. Diskominfo Kabupaten Mojokerto)

 


Kabar Mojokerto-
Wakil Bupati (Wabup) Mojokerto Muhammad Rizal Octavian membeberkan strategi menekan angka balita stunting. Salah satunya dengan menggerakkan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) hingga ke desa.

 

 

Hal itu disampaikan Rizal dihadapan panelis dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara hybrid di Smart Room Satya Bina Karya Pemkab Mojokerto, Rabu (11/6) siang. Selain Rizal, turut hadir pula Sekdakab Teguh Gunarko dan perwakilan tim TPPS dari tingkat kabupaten hingga kecamatan.


Baca Juga: Gema Pitu! Langkah Strategis Pemkab Mojokerto Tangani Stunting dan Tingkatkan Layanan Posyandu

Dalam paparannya, Rizal menyampaikan angka stunting di Kabupaten Mojokerto berhasil ditekan dari 16,2% pada 2023 menjadi 15,3% tahun 2024.

 

“Sebagian besar Kecamatan juga telah mengalami penurunan," kata Rizal.

Menurut dia, penyebab utama stunting di

Kabupaten Mojokerto 87% oleh pola makan. Sedanangkan 45% karena pola asuh serta 65% faktor lingkungan seperti sanitasi dan paparan asap rokok.

"Jadi dari 1 kasus stunting ini bisa penyebabnya ada 2 faktor, jadi tidak hanya 1 penyebab saja," terangnya.

Tahun 2026, Pemkab Mojokerto juga menargetkan bisa menurunkan lokasi fokus (lokus) stunting di desa menjadi 19. Di mana pada tahun 2025 ini ada 25 lokus stunting se-Kabupaten Mojokerto.

Rizal menyebut,  pendanaan program penurunan stunting meningkat signifikan. Selain bersumber dari APBD dan APBN, Kabupaten Mojokerto juga memanfaatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dan non-fisik, serta dukungan CSR dari perusahaan swasta.

"Dari pemetaan perangkat daerah mengaku stunting ada peningkatan jumlah anggaran dari tahun 2021-2024," ujar Rizal

Tak hanya itu, dalam upaya menurunkan angka stunting diwilayahnya, Pemkab Mojokerto juga menjalin beberapa komitmen di antaranya adalah MoU dengan 18 Kepala KUA Kecamatan se-Kabupaten Mojokerto terkait pendampingan calon pengantin, serta kerja sama dengan STIKES Majapahit, STIKES Dian Husada, dan UBS PPNI untuk intervensi kesehatan.

Pemkab Mojokerto juga mengembangkan dua aplikasi pendukung yakni e-Stunting dan KERISMOJO. Aplikasi ini mencatat data penimbangan balita, laporan kegiatan TPPS, hingga realisasi anggaran dan dukungan CSR.

Data tersebut menjadi basis audit kasus stunting, termasuk untuk ibu hamil risiko tinggi. Audit melibatkan dokter spesialis anak dan ahli gizi.


Baca Juga: Bonus Rp 6 M untuk Pemkab Mojokerto yang Sukses Turunkan Stunting Jadi 2,33%

Program inovatif juga diperkenalkan, salah satunya SUJU (Susu Jum’at). Program ini menyasar siswa SD dan SMP agar terbiasa mengonsumsi susu sebagai bagian dari pemenuhan gizi.

"Program SUJU ini akan bisa merubah mindset anak-anak untuk lebih suka meminum susu karena memang susu ini nanti akan ada rasa-rasa tertentu agar bisa disukai dan juga lebih membiasakan," ungkap Wabup Rizal.

Selain SUJU, ada Gema Pitu (Gerakan Masyarakat Posyandu Terpadu) dan Sinau Penting, sebuah gerakan dari Kecamatan Dlanggu yang didanai secara sukarela oleh ASN untuk membantu balita stunting.

Adapula program pemberdayaan berbasis pangan lokal seperti Pekarangan Pangan Lestari (P2L), pelatihan masak, serta wisata kuliner di Pacet juga jadi bagian dari strategi.

"Kami memberdayakan masyarakat lokal untuk melakukan penanaman yang sesuai untuk kebutuhan nutrisi untuk penanganan stunting. Kedua untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, jadi memproses dan menjual produk lokal makanan dan pertanian," jelasnya.


Baca Juga: Aplikasi Tumbas Milik Pemkab Mojokerto Raih Top Inovasi Pelayanan Publik dari Kemenpan RB

Pemkab juga menggandeng pihak swasta seperti PT Multi Bintang, PT BONDVAST, PT Sun Flower Ceramics, hingga Dompet Dhuafa untuk intervensi langsung dan bantuan sosial.

Rizal menambahkan, capaian intervensi spesifik dan sensitif sudah memenuhi target. Pendampingan keluarga pun sudah mencakup lebih dari 50% kecamatan secara penuh.

"Jadi evaluasi kinerja yang bisa kita lihat dari capaiannya ada peningkatan terutama yang sesuai dengan indikator pendukung dan juga capaian jenis intervensi itu sendiri," tandasnya.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

MBG Tetap Jalan di Bulan Ramadan, Ini Bocaran Menunya

Selasa, 3 Februari 2026 | 16:05 WIB

Korban Keracunan MBG di Mojokerto Kini Capai 261 Anak

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:45 WIB

India Jadi Role Mode MBG, DPR Minta Kaji Ulang

Selasa, 4 November 2025 | 11:06 WIB

Cuaca Panas Ekstrem, Ini 6 Dampak Paparan Sinar UV

Minggu, 19 Oktober 2025 | 15:32 WIB
X