Bongkar Mitos! Kenapa Makan Malam Tidak Selalu Menggagalkan Diet?

Photo Author
Muhammad Siswanto, Kabar Mojokerto
- Selasa, 22 Oktober 2024 | 06:15 WIB
Ilustrasi Dokter menjelaskan secara medis terkait program diet. (Foto: Kabarmojokerto.id)
Ilustrasi Dokter menjelaskan secara medis terkait program diet. (Foto: Kabarmojokerto.id)

Kabar Mojokerto - Mitos atau Fakta, bagi orang obesitas, makan malam menjadi salah satu pantangan terbesarnya. Bahkan, diyakini hanya akan membuat program diet menjadi sia-sia.

Salah satu dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Gatoel, dr. Supiansyah, menganggap mitos, bahwa makan malam akan membuat program diet menjadi berantakan atau bahkan gagal. Justru, ketika penderita obesitas menghindari makan malam, hal itu dapat memicu penyakit lambung.

"Pola makan harus teratur. Jika tidak makan pada waktu-waktu yang seharusnya, maka akan menyebabkan gangguan pada lambung. Jadi, siklusnya harus tetap berjalan," ungkap Supiansyah kepada wartawan (22/10/2024).

Baca Juga: Tubuh Gemoy Rentan Terserang Penyakit, Ini Tips Agar Tetap Sehat

Cara yang tepat adalah menjalani program defisit kalori dengan mengurangi asupan energi yang diperlukan oleh tubuh. Sebagai contoh, jika seseorang mampu menghabiskan 2.000 kalori dalam sehari, maka energi yang masuk ke dalam tubuh harus di bawah angka tersebut.

Meski demikian, penderita obesitas tidak boleh sembarangan melakukan defisit kalori. Agar tidak salah kaprah, ia menyarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi. Hal ini bertujuan agar saat menjalani program diet dengan cara defisit kalori, penderita tidak mengalami kelaparan atau bahkan jatuh sakit.

"Defisit kalori itu tujuannya menghancurkan lemak yang ada di dalam tubuh. Agar terjadi defisit, maka asupan kalorinya harus minus (-)," terangnya.

Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat HPA aksis atau sistem yang mengatur berbagai fungsi tubuh. Mulai dari otak, lambung, hingga ginjal, sudah ada siklusnya. Oleh karena itu, sangat tidak dianjurkan untuk program diet yang mengurangi jadwal makan. Namun, perubahan harus difokuskan pada pola makan dengan mengecilkan jumlah kalori.

Baca Juga: Bahaya! Simak Risiko Penyakit Yang Doyan Makan Pedas Siap Saji

Caranya adalah dengan mengurangi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi (seperti nasi) dan sebagai gantinya memperbanyak makanan yang rendah karbohidrat (seperti sayur dan buah). Meskipun dikurangi, bukan berarti mengeliminasi unsur tertentu. Makanan yang dikonsumsi harus tetap seimbang atau memiliki kandungan karbohidrat, protein, lemak, dan serat.

"Cuma nanti proporsinya dan kebutuhan kalorinya harus dihitung, karena tujuannya adalah mencapai berat badan ideal. Jadi, kalori yang masuk harus seimbang dan tidak mengganggu pencernaan," tandasnya.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

MBG Tetap Jalan di Bulan Ramadan, Ini Bocaran Menunya

Selasa, 3 Februari 2026 | 16:05 WIB

Korban Keracunan MBG di Mojokerto Kini Capai 261 Anak

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:45 WIB

India Jadi Role Mode MBG, DPR Minta Kaji Ulang

Selasa, 4 November 2025 | 11:06 WIB

Cuaca Panas Ekstrem, Ini 6 Dampak Paparan Sinar UV

Minggu, 19 Oktober 2025 | 15:32 WIB
X