Kabar Mojokerto - Perpustakaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Alun-alun Kota Mojokerto mengalami penurunan pengunjung yang signifikan, dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya adalah dominasi gadget.
Dibangun oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Mojokerto sejak 2019, perpustakaan ini terletak di sebelah barat alun-alun dan didesain dengan konsep minimalis menggunakan bekas box truk. Meskipun memiliki tujuan untuk menjadi ruang baca yang menarik, akhir-akhir ini perpustakaan ini terlihat sepi pengunjung.
Data yang dihimpun tim Kabar Mojokerto menunjukkan bahwa antara Januari hingga Juli 2024, jumlah pengunjung tidak memenuhi target minimal 25 orang per hari. Sebagai contoh, pada bulan April 2024, meskipun operasional perpustakaan hanya berlangsung selama 20 hari, target 500 pengunjung tidak tercapai, dengan hanya 250 pengunjung yang datang. Bahkan, pada tanggal 20 April, tidak ada pengunjung sama sekali.
Baca Juga: Wajib Belajar 13 Tahun Bakal Diterapkan di Indonesia, Ini Persiapan Pemkot Mojokerto
Kondisi ini mulai berubah dengan kehadiran petugas pelayanan baru, Susi Ambarwati (45) dan Nining Rahayu (39), yang mulai bertugas pada bulan Agustus. Mereka berhasil memenuhi target pengunjung dalam dua bulan pertama. Pada bulan Agustus, meskipun operasional hanya berlangsung selama 26 hari, perpustakaan mampu menarik 851 pengunjung, melebihi target yang ditetapkan.
"Rata-rata kami mendapatkan lebih dari 30 pengunjung per hari, sementara target minimal 25," ungkap Susi kepada wartawan Kabar Mojokerto saat ditemui di Perpustakaan RTH pada, Rabu, (9/10/2024).
Untuk meningkatkan jumlah pengunjung, Susi dan Nining menerapkan sistem "jemput bola" dengan mengajak orang yang sedang bersantai di alun-alun untuk membaca. Mereka juga memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan perpustakaan.
"Kami sadar bahwa tidak semua orang tahu bahwa ini adalah perpustakaan, jadi kami berinisiatif untuk mengundang mereka," terang Susi.
Susi menambahkan bahwa salah satu penyebab sepinya pengunjung adalah ketergantungan masyarakat pada gadget. "Anak saya yang SMA lebih memilih mencari informasi lewat ponsel daripada membuka buku," tuturnya.
Selain itu, waktu operasional perpustakaan yang terbatas juga menjadi faktor penghambat. Saat ini, perpustakaan buka dari pukul 08.00 hingga 14.00 WIB pada hari Senin hingga Jumat, sementara banyak pengunjung lebih memilih datang di sore hingga malam hari.
"Jika kami ingin buka lebih lama, itu berkaitan dengan pengaturan kepegawaian dan anggaran. Sebelum pandemi, kami pernah menerapkan sistem piket dari pagi hingga malam di akhir pekan, dan itu terbukti menarik lebih banyak pengunjung," tambahnya.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, Susi dan Nining berkomitmen untuk terus berupaya menarik pengunjung ke Perpustakaan RTH demi meningkatkan minat baca masyarakat Mojokerto di era modern ini.
Artikel Terkait
Disdik Mojokerto Tuntaskan Pembangunan Dua Sekolah Senilai Rp 1,9 M, Lebih Cepat dari Target
Siap-siap, Tahun Depan Pemkab Mojokerto Beri Beasiswa Bagi Guru
Wajib Belajar 13 Tahun Bakal Diterapkan di Indonesia, Ini Persiapan Pemkot Mojokerto
Proyek Rehabilitasi SMPN 1 Puri Mojokerto Hampir Rampung
7 Sekolah di Kota Mojokerto Raih Predikat Adiwiyata 2024