peristiwa

Warga Mojokerto Pasang Spanduk Sindiran Soal Banjir di Pintu Air Sipon

Jumat, 13 Desember 2024 | 20:06 WIB
Spanduk bernada protes yang dipasang warga di Bendungan Sipon Sungai Avour Watudakon (Kabarmojokerto.id/Achmad Latifullah)


Kabar Mojokerto - 
Warga pasang spanduk sindiran terhadap pemerintah daerah terkait masalah banjir di pintu air Sipon, Sungai Avour Watudakon, perbatasan Desa Blimbing, Kesamben, Jombang, dan Desa Ngingasrembyong, Sooko, Mojokerto, pada Jumat (13/12/2024) pukul 11.30 WIB.

Spanduk-spanduk tersebut mengandung pesan kritis terhadap pemerintah dan dinas terkait, antara lain bertuliskan: “Kami mohon direvisi dan dievaluasi”, “Gagal perencanaan, gagal pelaksanaan”, “Proyek -100 m³/tahun, apakah bisa dikatakan gagal?”, “Sedangkal sungai inikah pejabat dinas terkait mengatasi banjir?”, “Awak dewe butuh kenyamanan, atasi banjir secepat mungkin”, dan “Kami butuh solusi, bukan pencitraan diri untuk atasi banjir langganan tahunan”.

Namun, sekitar pukul 14.00 WIB, spanduk-spanduk berbahan kain putih tersebut dicopot oleh petugas gabungan TNI-Polri dan beberapa warga setempat.

Baca Juga: Pelajar 15 Tahun di Mojokerto Tewas Usai Tertabrak Pikap

Menurut warga, penyebab utama terjadinya banjir tahunan di Dusun Beluk adalah adanya pintu air Sipon di Sungai Avour Watudakon yang terletak di Desa Ngingasrembyong, Sooko, Mojokerto.

Suyono (59), salah seorang warga, mengungkapkan sebelumnya, tanpa adanya pintu air tersebut, banjir yang terjadi hanya berlangsung sebentar dan cepat surut. Namun, sejak pintu air dipasang, aliran air menjadi terhambat, sampah pun tidak bisa mengalir dengan lancar, menyebabkan buntu, dan memperparah banjir.

“Dulu, sebelum ada pintu air sipon ini, tidak pernah terjadi banjir besar. Banjir cuma sebentar, lalu hilang. Sekarang, airnya terhambat, sampah tidak bisa bergerak, jadi banjir semakin parah,” ujar Suyono saat ditemui wartawan.

Baca Juga: Trio Maling Gasak 2 Sepeda Motor Matic di Mojokerto, Aksi Terekam CCTV

Suyono menambahkan, pembersihan sampah yang menyangkut di pintu air sipon dinilai sia-sia, karena ia yakin banjir besar tetap akan terjadi setiap kali musim hujan datang. “Dibongkar saja pintu airnya. Kalau seperti ini, pembersihan sampah percuma. Musim hujan datang, banjir pasti datang lagi,” tegasnya.

Senada dengan Suyono, Salam (55) juga mengungkapkan keluhannya. Ia mengatakan jika terhambatnya aliran air di Sungai Avour Watudakon telah menyebabkan banjir yang menggenangi rumah-rumah warga di Dusun Beluk sejak Sabtu (7/12/2024).

“Ketinggian air di dalam rumah sudah lebih dari 1 meter. Sudah 6 hari, air belum juga surut,” keluh Salam.

Tags

Terkini