Kabar Mojokerto - Baliho-baliho pasangan calon (paslon) yang maju di Pilkada Mojokerto 2024 bertebaran di ruang publik. Terutama di pinggir jalan raya. Selain mengganggu estetika, baliho politisi yang semerawut itu juga membuat polusi visual.
Misalnya, baliho besar bergambar bapaslon bupati dan wakil bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati terpampang di simpang empat Sooko. Baliho pasangan ini juga berdampingan dengan penantangnya, Muhammad Al Barra.
Di sejumlah titik lain juga banyak ditemukan. Bahkan, tak jarang pemasangannya menyalahi prosedur. Seperti dipasang di tiang listrik dan ditancapkan di pohon serta pagar rumah.
Pengamat Politik dari Universitas Islam Majapahit (UNIM) Rakhmad Saiful Ramdhani menyebut, pemasangan baliho paslon atau politisi mendapat sorotan dari para aktivis lingkungan. Karena mengganggu estetika kota dan berakhir menjadi sampah.
“Iya bener polusi visual. Kemarin teman-teman aktivis lingkungan itu sempat mengkritik karena limbah baliho itu sudah sangat menggangu. Terutama yang parpol dan calon presiden itu luar biasa polusi visualnya. Bahkan menganggu di beberapa ruas jalan. Apalagi pasca itu, sampahnya luar biasa," ungkapnya kepada Kabar Mojokerto, Senin (2/9/2024).
Baca Juga: Berebut Suara Nahdliyyin dan Efek Dua Kiai di Pilbub Mojokerto 2024
Dalam urusan peningkatan elektabilitas, baliho tak berdampak sama sekali. Menurut Dhani, dibutuhkan pendekatan yang lebih canggih dan konkret.
Misalnya, kampanye door to door yang bertujuan untuk berkenalan langsung dengan para konstituen dan menyapa mereka, hal tersebut lebih berdampak pada signifikan daripada pemasangan baliho.
Artikel Terkait
Diantar Ribuan Pendukung, Ning Ita - Cak Sandi Daftar ke KPU Kota Mojokerto
Hanya Diusung PKB, Junaedi - Amin Resmi Daftar Ke KPU Kota Mojokerto
PKB Dikeroyok, Pengamat Nilai Junaedi - Amin Akan Berat Menangkan Pilwali Mojokerto 2024
Dua Bapaslon Pilwakot Mojokerto Jalani Tes Kesehatan di RSUD dr Soetomo, Hasilnya Diumumkan 6 September
Berebut Suara Nahdliyyin dan Efek Dua Kiai di Pilbub Mojokerto 2024