Yuhan menyampaikan, Soekarno kecil harus belajar keras agar tidak dianggap remeh orang lain, terutama anak Eropa yang sekolah bersamanya. Tidak jarang dirinya harus belajar hingga menjelang fajar dengan menggunakan lampu penerangan dari lentera atau nyala lilin.
Baca Juga: Kisah Bupati Mojokerto yang Berani Tolak Ajakan Presiden
Tidak lupa Soekarno juga menyampaikan bila dirinya sering kali duduk-duduk di Alun-alun Kota Mojokerto yang letaknya bersebelahan dengan Kantor Kabupaten Mojokerto. Kegiatan nongkrong yang kadang dilakukan sambil bermain adu jangkrik.
Dalam kesempatan ini, Soekarno berpesan kepada para siswa.
"Djangan dikira djika engkau sudah tammat sekolah menengah sudah tjukup ilmu pengetahuan. Biar engkau sudah menjadi profesor, master of rech (mr), dokter, insinyur sekalipun, pengetahuan tentang ilmu itu masih dapat ditambah. Sebab itu beladjarlah dengan tiada henti-hemtinya".ujar Soekarno seperti yang dikutip oleh surat kabar "Pemandangan" yang terbit pada Senin, 19 Mei 1958.
"Tetapi Indonesia tidak membutuhkan orang-orang yang hanja mempunjai ilmu pengetahuan sadja. Biarpun orang itu pinter sampai botak kepalanja dan meskipun otaknja bagaikan satu perpustakaan jang mengumpulkan ilmu pengetahuan kalau dia tidak bisa berusaha memakai kepintarannja itu untuk kepentingan tanah air dan bangsa, manusia itu tidak ada gunanja ", jelasnya.
Setelah pidato di pendopo, Presiden Soekarno kemudian melanjutkan acaranya. Di alun-alun Mojokerto telah menunggu ribuan manusia yang memenuhi tiap sudutnya.
Ribuan masyarakat tak hanya datang dari Kota dan Kabupaten Mojokerto, mereka datang dari berbagai daerah untuk bisa mendengar orasi pemimpin yang dicintainya.
Artikel Terkait
Perjuangan Kiai-Santri Mojokerto Pertahankan Kemerdekaan RI di Bawah Panji Laskar Hizbulloh
Cerita Legenda dan Asal Usul Nama Desa Berat Wetan di Mojokerto
Menyusuri Jejak Mpu Supo Sang Maestro Pusaka Era Kerajaan Majapahit di Mojokerto
Kisah Pohon Jati Dibalik Nama Dusun Jatisumber di Mojokerto