Kabar Mojokerto- Pasca PKI dibuburkan pada 1965, pembersihan anggota PKI dan antek-anteknya digencarkan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Mojokerto.
Di Mojokerto, para anggota PKI dan simpatisannya, maupun yang dituduh, dengan mudah ditangkap. Menurut pemerhati sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq, meraka kemudian dijebloskan ke penjara atau ditahan di markas Koramil.
Salah satu yang menarik adalah kisah tentang dukun sakti di Kecamatan Dawarblandong. Rumah dukun PKI ini di banyak didatangi pengikutnya yang minta perlindungan.
“Saat sore hari mereka berkumpul di rumah Mbah Dukun. Bila ada aparat yang akan menjemput maka yang maju adalah Mbah Dukun yang kebal peluru. Maka Mbah Dukun yang menjadi perintang aparat saat menjalankan tugas pengamanan,” kata Yuhan dalam sebuah artikel yang ditulisnya.
Salah seorang anggota Koramil Gedeg mencari cara agar bisa menghabisi nyawa sang dukun. Anak muda bernama Palal menjadi jujukannya. “Pada anak muda yang sempat menjadi santri Kyai Khusain Ihsan itu,,dia sampaikan tentang kendala kerjanya,” ujar Yuhan.
Namun, pemuda yang juga merupakan anggota Ansor itu menjawab dengan santai. “Palal menjawab, soal hidup mati kewenangan Allah, jika sudah sampai waktunya siapapun bisa membunuhnya,” imbuh Yuhan.
Baca Juga: Dibalik Pertarungan Sengit NU - PKI di Mojokerto, RA Basoeni Duduki Kursi Bupati
Setelah pertemuan itu , kata Yuhan, Palal menemui petugas Koramil Gedeg. Koramil Gedeg adalah Koramil Kawedanan Mojokasri yang wilayah kerjanya mencakup kecamatan Dawarblandong.
Artikel Terkait
Kamas Setyoadi Dimata Anak-nya, Sosok Ayah yang Sederhana dan Keras Dalam Mendidik
Sejarah R.A Basoeni Jadi Bupati Mojokerto Diantarkan Partai NU
Hadapi Pilbub Mojokerto 2024, PCNU Minta Ansor - Banser Tak Gunakan Atribut untuk Kepentingan Politik
Perjuangan Kiai-Santri Mojokerto Pertahankan Kemerdekaan RI di Bawah Panji Laskar Hizbulloh
Monumen Letkol Wijono di Mojokerto, Mengenang Perwira TNI Korban Pemberontakan PKI