Kisah Sulastri, Ketua Gerwani di Mojokerto yang Rajin Ibadah Sebelum Ditangkap

Photo Author
Muhammad Lutfi Hermansyah, Kabar Mojokerto
- Jumat, 13 Juni 2025 | 11:38 WIB
Anggota Gerwani (Koleksi Ayuhanafiq)
Anggota Gerwani (Koleksi Ayuhanafiq)

 

 

Kabar Mojokerto- Meletusnya Gerakan 30 September tahun 1965 berdampak besar pada orang-orang yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Mereka yang dianggap simpatisan PKI ditangkap. Salah satunya dialami oleh Sulastri, Ketua Gerwani Kecamatan Jatirejo.

 

Menurut pemerhati sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq, Sulastri merupakan seorang perempuan berasal dari Desa Jatirejo, Mojokerto. Sebelum menjadi bergabung ke Gerwani, Sulastri menyambung hidup dari bertani meski tak memiliki sawah yang luas.

 

“Tanah sepetak sawah yang dia (Sulastri)  kelola bersama suaminya bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari,” kata Yuhan dalam sebuah artikelnya.

 

Sulastri juga disebut menjadi buruh tani bagi demi bertahan hidup pada awa tahun 1960. Rumah Sulastri tidak seberapa besar, hanya rumah berdinding gedeg, anyaman bambu dengan lantai tanah.

 

Tak dari rumahnya terdapat sebuah musala kecil, tempat Sulastri menjalankan ibadah secara berjamaah. “Walaupun bukan sosok yang terbilang taat, Sulastri masih sering terlihat datang ke tempat ibadah ataupun ikut acara-acara keagamaan di lingkungannya. Secara sosial perempuan itu supel alias mudah bergaul,” terang Yuhan.

Baca Juga: Kisah Dukun PKI yang Sakti di Mojokerto Tewas Ditangan Santri

Namun, kehidupan Sulastri berubah ketika ia didekati oleh salah satu perangkat desa setempat, Musa atau Muso. Muso dikenal sebagai tokoh PKI.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X