Sempat Hilang 3 Hari, Pria Mojokerto Ditemukan Tewas Mengapung di Sungai Gembolo

Photo Author
Deni Lukmantara, Kabar Mojokerto
- Rabu, 2 Juli 2025 | 15:59 WIB
Petugas gabungan mengevakuasi jenazah pria Mojokerto yang ditemukan mengapung di Sungai Gembolo setelah dilaporkan hilang selama 3 hari. (Deni Lukmantara)
Petugas gabungan mengevakuasi jenazah pria Mojokerto yang ditemukan mengapung di Sungai Gembolo setelah dilaporkan hilang selama 3 hari. (Deni Lukmantara)

Kabar Mojokerto - Seorang pria berinisial SH (60) ditemukan tewas mengapung di aliran Sungai Gembolo, Dusun Meduran, Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto.

Sebelumnya, SH dilaporkan hilang oleh keluarganya sejak Sabtu (28/6) lalu.

Kepala Dusun Meduran, Mustofa, mengungkapkan bahwa jasad SH pertama kali ditemukan oleh salah satu warga yang sedang membuang sampah di sungai. Warga tersebut kemudian melaporkan temuannya kepada perangkat desa.

"Setelah itu dilaporkan ke perangkat desa. Warga sudah mengenali korban," tambahnya.

Baca Juga: Dua Mahasiswa KKN UGM Tewas Usai Insiden Longboat Terbalik di Maluku, Begini Kronologinya

Penemuan tersebut membuat geger warga desa setempat. Warga pun berbondong-bondong mendatangi lokasi penemuan untuk melihat langsung jasad korban. Menurut Mustofa, warga mengenali korban sebagai SH, warga Dusun Adisono, Desa Lebaksono, Kecamatan Pungging, yang telah dinyatakan hilang sejak Sabtu (28/6) lalu.

Mendapat laporan penemuan tersebut, Tim Inafis Satreskrim Polres Mojokerto bersama Polsek Mojosari langsung mendatangi lokasi. Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RSUD Prof. Dr. Soekandar, Mojosari, Mojokerto.

Kakak kandung SH, Sukamto, membenarkan bahwa korban sempat tidak pulang ke rumah. Menurutnya, korban memiliki riwayat sakit stroke sejak sekitar 40 tahun lalu.

"Sudah menghilang dari rumah sejak hari Sabtu kemarin. Dia punya riwayat sakit stroke sejak sekitar 40 tahun lalu," jelasnya.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Wilayah Mojokerto Hari Ini, 2 Juli 2025

Sementara itu, Kapolsek Mojosari, Kompol Purnomo, menambahkan bahwa pihak keluarga korban tidak berkenan dilakukan autopsi. Saat ini, jenazah SH telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan.

“Pihak keluarga tidak menghendaki autopsi, mengingat korban merupakan ODGJ. Keluarga menerima kematian korban sebagai musibah,” kata Purnomo.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X