Kabar Mojokerto - Di tengah kekhawatiran akan potensi aksi anarkis yang menyasar institusi kepolisian, warga Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, justru memilih turun tangan langsung menjaga Polsek Pungging.
Puluhan warga yang tergabung dalam berbagai elemen seperti Karang Taruna, Banser, komunitas pencak silat hingga relawan lokal melakukan patroli bersama polisi demi menjaga ketertiban.
"Saat warga merasa punya tanggung jawab terhadap keamanan, itu tandanya kepolisian sudah mendapat kepercayaan penuh," ujar Iptu Selimat, Kapolsek Pungging.
Mereka tidak hanya berjaga di markas kepolisian, tapi juga melakukan pemantauan keliling lingkungan dengan dibekali senter dan alat komunikasi sederhana.
Aksi ini muncul bukan karena diminta, melainkan karena dorongan kesadaran bersama bahwa stabilitas lingkungan dimulai dari solidaritas warga.
Alih-alih bersikap reaktif terhadap ancaman, pendekatan yang diterapkan Polsek Pungging justru bersifat humanis dan persuasif, sehingga masyarakat merasa dilibatkan sejak awal.
Kolaborasi ini memunculkan semacam model hybrid antara aparat keamanan dan warga sipil yang bisa dijadikan acuan bagi wilayah lain dalam menjaga ketertiban.
Tokoh masyarakat seperti Agus, yang ikut terjun langsung, menilai bahwa menjaga kantor polisi bukan sekadar simbolik, tapi bagian dari menjaga ruang hidup bersama.
"Kami tidak mau menunggu kejadian buruk terjadi dulu baru bereaksi, karena kalau Polsek aman, lingkungan kami ikut aman," ucapnya.
Artikel Terkait
Doa untuk Affan Juga Digelar di Komunitas Ojol dan Polisi di Kota Mojokerto
Polres Mojokerto Gelar Doa Bersama Ojol dan Tukang Becak untuk Mediang Affan Korban Rantis Brimob
Adu Banteng Pikap vs Vario di Mojokerto Sebabkan 5 orang Luka-luka, Begini Kronologinya
Khawatir Ada Penyusup dan Provokator, Mahasiswa di Mojokerto Batal Gelar Demo