12 Kecamatan di Kabupaten Mojokerto Masuk Zona Merah Rawan Banjir

Photo Author
Muhammad Siswanto, Kabar Mojokerto
- Kamis, 5 Desember 2024 | 09:00 WIB
Banjir di Mojokerto. (Kabarmojokerto.id/Muhammad Siswanto)
Banjir di Mojokerto. (Kabarmojokerto.id/Muhammad Siswanto)

Kabar MojokertoHampir seluruh wilayah di Kabupaten Mojokerto masih berpotensi mengalami banjir. Berdasarkan data yang tercatat, sebanyak 12 kecamatan masuk dalam kategori zona merah rawan bencana banjir.

Menurut peta kerawanan bencana dari BPBD Kabupaten Mojokerto, dari 18 kecamatan yang ada, hanya wilayah Trawas yang tidak berpotensi mengalami banjir. Sementara itu, 12 kecamatan lainnya terkategori sebagai zona merah banjir luapan, antara lain, Kecamatan Dawarblandong, Kemlagi, Jetis, Gedeg, Sooko, Trowulan, Puri, Mojoanyar, Bangsal, Mojosari, Pungging, dan Ngoro.

Beberapa faktor menyebabkan tingginya potensi banjir di wilayah tersebut. Faktor utama adalah topografi yang tidak mendukung serta keberadaan sejumlah sungai besar, seperti Sungai Brantas, Sungai Sadar, Sungai Marmoyo, dan Kali Lamong, yang sangat memengaruhi saat terjadi sumbatan.

Baca Juga: Truk Fuso Vs Mobil Daihatsu Terios Adu Banteng di Mojokerto, 1 Luka

Meski demikian, Kepala BPBD Kabupaten Mojokerto, Yo'ie Afrida Soesetyo Djati, menyatakan jika potensi banjir pada tahun ini semakin berkurang. Hal ini tidak terlepas dari upaya mitigasi yang gencar dilakukan oleh pihaknya, seperti pemetaan kerawanan, penghijauan, serta normalisasi sungai.

“Semuanya sungai kita bersihkan. Misalnya, pembersihan Kali Sadar mulai dari Ngoro hingga wilayah perbatasan Kota Mojokerto. Namun, meskipun sudah dibersihkan, sungai tetap akan kotor, yang penting adalah tidak ada sumbatan,” ujarnya.

Menurutnya, apabila terjadi sumbatan pada sungai, air akan berpotensi meluap, yang berdampak pada jalan, lahan pertanian, dan pemukiman penduduk. Apalagi, jika tanggul jebol, luapan air sungai akan sulit diatasi.

“Tahun ini, tidak ada banjir karena musim hujan sudah hampir berakhir. Namun, kita tetap harus waspada terhadap aliran air dari hulu ke hilir yang bisa membawa material sampah. Jika ada tanggul yang jebol, dampaknya pasti akan signifikan,” ungkapnya.

Baca Juga: Dua Bandit Terekam CCTV Gasak Sepeda Motor Pegawai SPX di Mojokerto, Modus Beli Nasi Bungkus

Contoh banjir yang terjadi pada Maret lalu di Desa Kedungempol, Mojosari, akibat tanggul jebol, yang mengakibatkan pemukiman warga dan lahan pertanian terendam hingga ketinggian satu meter. Selain itu, di Desa Wringinrejo, Kecamatan Sooko, hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan tanggul jebol di aliran Sungai Brangkal.

Untuk mengantisipasi banjir yang serupa, Pemkab Mojokerto telah memperbaiki tanggul yang jebol. Namun, Yo'ie mengingatkan bahwa pihaknya tidak dapat menjamin bencana serupa tidak akan terjadi lagi.

“Bencana tidak bisa kita hilangkan sepenuhnya, tetapi setidaknya kita bisa meminimalkan dampaknya,” tutp Yo'ie.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X