“Paling tinggi, kalau kami melihat dengan data di polres juga, di wilyah Prajurit Kulon. Klien rehabilitasi kami kebanyakan masih muda. Artinya, usia muda banyak dimanfaatkan bandar menjadi kurir dan penyalahguna narkoba,” ungkapnya.
Menurut dia, pencegahan narkoba memerlukan upaya bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan. Edukasi tentang bahaya narkoba dan pengawasan yang ketat terhadap anak-anak dan remaja dapat membantu mencegah penyalahgunaan narkoba.
“Banyak orang tua kurang paham dan tidak perhatian terhadap anak. Pengawasan orang tua selama ini hanya sebatas berkaitan dengan kenakalan remaja, seperti tawuran. Tetapi terkait narkoba kurang diperhatikan,” kata Arum.
Arum mengatakan, selama ini gencar melakukan tes urine ke berbagai kalangan. Tes urine ini dapat menjadi salah satu upaya deteksi dini untuk memutus mata rantai penyalahgunaan narkoba.
Tetapi, kata dia, banyak masyarakat yang salah kaprah terkait dengan tujuan tes urine.
“Ada yang bilang jebakan. Tetapi itu adalah upaya kami deteksi dini memutus mata rantai. Agar kita tahu di wilayah ini ada penyalahgunaan narkoba. Tujuannya agar tidak menularkan kepada yang lainnya. Upaya kami bukan untuk menjebak, tetapi untuk deteksi dini,” bebernya.
Ia menambahkan, tahun ini BNN Kota Mojokerto memperkuat edukasi dan penyuluhan kepada siswa untuk mencegah penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah. Tak hanya siswa, upaya ini juga menyasar para guru.
Artikel Terkait
Detik-detik Polisi Geledah Rumah Pemilik Ribuan Pil Koplo
Segini Penghasilan Kurir dan Bandar 1 Juta Pil Koplo yang diamankan Polisi Mojokerto
6 Pengedar Narkoba di Mojokerto Dibekuk, Sita Sabu - Pil Double L Senilai 174 Juta
Polisi Tangkap Sopir Pikap Kediri Pakai Sabu di Jalan Bypass Mojokert, Sempat Kejar-Kejaran