Melihat Penjara Bekas Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari di Mojokerto, Begini Kondisinya

Photo Author
Muhammad Lutfi Hermansyah, Kabar Mojokerto
- Jumat, 21 Maret 2025 | 08:00 WIB
Kepala Lapas Kelas IIB Rudi Kristiawan menunjukkan suasana penjara nomor 2, tempat Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari ditahan selama penjajahan Jepang. (M Lutfi Hermansyah)
Kepala Lapas Kelas IIB Rudi Kristiawan menunjukkan suasana penjara nomor 2, tempat Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari ditahan selama penjajahan Jepang. (M Lutfi Hermansyah)

Kabar Mojokerto – Perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia merupakan hal yang sangat berat. Banyak tokoh-tokoh pejuang harus berurusan dengan hukum pada era penjajahan. Salah satunya adalah Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari.

Kiai Hasyim pernah ditahan di balik penjara Purwotengah, yang kini berubah menjadi Lapas Kelas IIB Mojokerto. Sosok pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) itu menempati penjara nomor 2 di Blok A.

“Kamar ini pernah menjadi kamar yang dihuni oleh pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari. Beliau di sini ditahan selama 4 bulan pada saat penjajahan Jepang, karena menolak perintah pemerintahan Jepang. Sebelumnya, beliau ditahan di Jombang,” kata Kepala Lapas Kelas IIB Rudi Kristiawan sambil menunjukkan suasana penjara nomor 2 ini.

Di dalam ruangan bercat hijau itu, terpajang sosok Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari lengkap dengan narasi singkat tentang dirinya selama di penjara oleh pasukan Nippon.

Baca Juga: Pesan Soekarno Kala Mengunjungi Sekolah di Mojokerto, Penting untuk Generasi Muda!

Kasur semen sederhana di penjara nomor 2, tempat Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari menjalani masa tahanan selama penjajahan Jepang. (M Lutfi Hermansyah)

Menurut Rudi, ruang tahanan berukuran 5 x 4 meter ini selalu dicat dengan warna hijau, seperti ciri khas NU. Hal itu untuk mengenang perjuangan Kiai Hasyim Asy’ari serta memberi suri teladan bagi seluruh warga binaan.

“Saya merasakan auranya kamar ini sedikit berbeda dengan kamar lain, agak sejuk dan tenang. Semua bangunannya masih asli, mulai dari ventilasi, teralis, hingga bentuk pintunya,” papar Rudi.

Pemerhati sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq, mengatakan bahwa pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) itu ditangkap oleh tentara Jepang dan dijebloskan ke penjara Jombang pada tahun 1942. Namun, penahanan pengasuh Pesantren Tebuireng yang juga Rais Akbar NU itu mendapat reaksi keras dari kalangan santri.

Baca Juga: Menguak Sejarah Pasar Kranggan di Kota Mojokerto yang Kian Redup

Kepala Lapas Kelas IIB Rudi Kristiawan menunjukkan foto Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari, mengenang perjuangan beliau di penjara Purwotengah. (M Lutfi Hermansyah)

Sepanjang penahanan berlangsung, para santri setiap hari berunjuk rasa di depan penjara Jombang menuntut pembebasan Mbah Hasyim. Karena itu, penguasa Jepang berencana untuk memindahkan tempat penahanan Kiai Hasyim.

“Penjara Lapas Kelas IIB Mojokerto dipilih untuk menjadi lokasi pemindahan tahanan. Pada hari Senin, 4 April 1942, Kiai Hasyim Asy’ari dibawa keluar dari penjara Jombang untuk dibawa ke Mojokerto,” ungkap Yuhan.

Di lapas yang dibangun pada masa pemerintahan kolonial ini, petugas penjara menyiapkan ruang tahanan dengan nomor urut 2. Tak jauh berbeda dengan sel lain, di dalam ruangan hanya terdapat tempat tidur semen dan tanpa dilengkapi penerangan saat malam.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X