Nampak terpajang dua pigora lambang NU di depan rungan penjara nomor 2 di Blok A Lapas Kelas IIB Mojokerto. Di dalamnya, bercat hijau itu terpajang sosok Hadratus Syeikh Hasyim Asy’ari lengkap dengan narasi singkatnya selama di penjara oleh pasukan Nippon.
Pemilihan warna hijau karena identik dengan organisasi NU.
“Kami cat hijau setiap waktu untuk penghormatan kami kepada beliau (KH Hasyim Asy’ari). Ini merupakan kamar bersejarah. Disamping itu Lapas ini dibangun oleh oleh kolonial Jepang, tepatnya tahun 1918,” kata Kepala Lapas Kelas IIB Rudi Kristiawan.
Pemerhati sejarah Mojokerto, Ayuhanafiq mengatakan, pendiri organisasi Nahdlatul Ulama (NU) itu ditangkap tentara Jepang dan dijebloskan ke penjara Jombang pada tahun 1942. Namun, penahanan pengasuh Pesantren Tebuireng yang juga Rais Akbar NU itu mendapat reaksi keras dari kalangan santri.
Sepanjang penahanan berlangsung, para santri setiap hari berunjuk rasa di depan penjara Jombang menuntut pembebasan Mbah Hasyim. Karena itu, penguasa Jepang berencana untuk memindahkan tempat penahanan Kiai Hasyim.
“Penjara Lapas Kelas IIB Mojokerto dipilih untuk menjadi lokasi pemindahan tahanan. Pada hari Senin, 4 April 1942, Kiai Hasyim Asy’ari dibawa keluar dari penjara Jombang untuk dilayar ke Mojokerto,” ungkap Yuhan.
Di lapas yang dibangun masa pemerintahan kolonial ini, petugas penjara menyiapkan ruang tahanan dengan nomor urut 2. Tak jauh berbeda dengan sel lain, di dalam ruangan hanya terdapat tempat tidur semen dan tanpa dilengkapi penerangan saat malam.
Artikel Terkait
Mengenal Kiai Djatmiko Asal Mojokerto, Sosok Pemberi Keris Gus Dur di Makam Troloyo
Inspiratif, Sosok Supeltas di Mojokerto Jadi Garda Terdepan Ketertiban
Cerita Legenda dan Asal Usul Nama Desa Berat Wetan di Mojokerto
Melihat Penjara Bekas Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy'ari di Mojokerto, Begini Kondisinya