Pertempuran Pacet 1949: Kisah Berdarah Saat Mojokerto Jadi Garis Depan Perang Kemerdekaan

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 11:00 WIB
Cuplikan tulisan dalam buku "Sam Karya Bhirawa Anoraga" yang ditunjukkan oleh sejarawan Ayuhanafiq. Paragraf ini menjadi dasar keyakinannya bahwa Pacet, Mojokerto garis depan perjuangan kemerdekaan. (Arsip Sejarah Ayuhanafiq)
Cuplikan tulisan dalam buku "Sam Karya Bhirawa Anoraga" yang ditunjukkan oleh sejarawan Ayuhanafiq. Paragraf ini menjadi dasar keyakinannya bahwa Pacet, Mojokerto garis depan perjuangan kemerdekaan. (Arsip Sejarah Ayuhanafiq)

Kabar Mojokerto - Sejarawan lokal Mojokerto, Ayuhanafiq, atau yang akrab disapa Yuhan, mengungkap kisah pertempuran dahsyat yang nyaris terlupakan dalam sejarah nasional, yakni Pertempuran Pacet, Januari-Februari 1949.

Dalam penelusurannya, Yuhan menyebut jika pertempuran ini tak kalah dahsyat dibandingkan Pertempuran Surabaya 10 November 1945, namun luput dari sorotan sejarah.

"Bagaimana mungkin peristiwa yang menelan korban lebih kurang seribu prajurit bisa luput dari catatan sejarah?" ujar Yuhan saat diwawancarai, dengan nada heran dan prihatin.

Pertempuran yang berlangsung di wilayah Pacet, Mojosari, Ngoro, hingga Trawas ini melibatkan kekuatan besar dari pihak Republik Indonesia, yakni Pasukan Komando Hayam Wuruk.

Pasukan ini merupakan gabungan dari tiga batalyon utama, yakni Batalyon Mansyur, Batalyon Bambang Yuwono, dan Batalyon Tjipto, dikenal dengan nama Pasukan MBT, akronim dari nama-nama para komandan.

Baca Juga: Sudah Ada Sejak 1962, Ini Sejarah Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto

Serangan dari Selatan

Pasukan MBT memiliki misi berat, dengan menyerang Surabaya dari arah selatan, yakni melalui Sidoarjo. Mereka sempat berhasil menguasai beberapa wilayah strategis di Mojokerto selatan dan menjadikannya basis untuk menuju Surabaya.

Namun, jalur ke kota itu dijaga ketat oleh Belanda. Jembatan-jembatan strategis seperti Ngoro, Tanjangrono, dan Porong tak bisa ditembus. Sementara alternatif menyebrangi Sungai Porong tak memungkinkan, karena air sedang besar-besarnya akibat musim hujan.

Dukungan tambahan datang dari berbagai penjuru. Mayor Moenasir dengan sebagian Batalyon Tjondromowo, Kapten Soemadi bersama Kompi Macan Putih, bahkan para pejuang yang berhasil lolos dari pengepungan di Mendalan Kediri turut memperkuat barisan. Pacet menjadi titik konsolidasi dan perlawanan.

Baca Juga: Penanggungan Gunung Api yang Tidur Ribuan Tahun, Apakah Masih Bisa Meletus?

Neraka di Dlanggu

Pada pertengahan Februari 1949, Belanda melakukan konsolidasi besar-besaran dan menggempur habis kekuatan Republik. Pertempuran sengit terjadi di Dlanggu.

Belanda memakai taktik kejam, dengan menggiring penduduk sebagai tameng hidup di depan tank dan meriam. Para pejuang terjepit, dan pasukan MBT dipukul mundur.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X