Kabar Mojokerto - Sejarawan lokal Mojokerto, Ayuhanafiq, atau yang akrab disapa Yuhan, mengungkap kisah pertempuran dahsyat yang nyaris terlupakan dalam sejarah nasional, yakni Pertempuran Pacet, Januari-Februari 1949.
Dalam penelusurannya, Yuhan menyebut jika pertempuran ini tak kalah dahsyat dibandingkan Pertempuran Surabaya 10 November 1945, namun luput dari sorotan sejarah.
"Bagaimana mungkin peristiwa yang menelan korban lebih kurang seribu prajurit bisa luput dari catatan sejarah?" ujar Yuhan saat diwawancarai, dengan nada heran dan prihatin.
Pertempuran yang berlangsung di wilayah Pacet, Mojosari, Ngoro, hingga Trawas ini melibatkan kekuatan besar dari pihak Republik Indonesia, yakni Pasukan Komando Hayam Wuruk.
Pasukan ini merupakan gabungan dari tiga batalyon utama, yakni Batalyon Mansyur, Batalyon Bambang Yuwono, dan Batalyon Tjipto, dikenal dengan nama Pasukan MBT, akronim dari nama-nama para komandan.
Baca Juga: Sudah Ada Sejak 1962, Ini Sejarah Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto
Serangan dari Selatan
Pasukan MBT memiliki misi berat, dengan menyerang Surabaya dari arah selatan, yakni melalui Sidoarjo. Mereka sempat berhasil menguasai beberapa wilayah strategis di Mojokerto selatan dan menjadikannya basis untuk menuju Surabaya.
Namun, jalur ke kota itu dijaga ketat oleh Belanda. Jembatan-jembatan strategis seperti Ngoro, Tanjangrono, dan Porong tak bisa ditembus. Sementara alternatif menyebrangi Sungai Porong tak memungkinkan, karena air sedang besar-besarnya akibat musim hujan.
Dukungan tambahan datang dari berbagai penjuru. Mayor Moenasir dengan sebagian Batalyon Tjondromowo, Kapten Soemadi bersama Kompi Macan Putih, bahkan para pejuang yang berhasil lolos dari pengepungan di Mendalan Kediri turut memperkuat barisan. Pacet menjadi titik konsolidasi dan perlawanan.
Baca Juga: Penanggungan Gunung Api yang Tidur Ribuan Tahun, Apakah Masih Bisa Meletus?
Neraka di Dlanggu
Pada pertengahan Februari 1949, Belanda melakukan konsolidasi besar-besaran dan menggempur habis kekuatan Republik. Pertempuran sengit terjadi di Dlanggu.
Belanda memakai taktik kejam, dengan menggiring penduduk sebagai tameng hidup di depan tank dan meriam. Para pejuang terjepit, dan pasukan MBT dipukul mundur.
Artikel Terkait
Sejarah Makam Orang Eropa dan Cina di Mojokerto: Pemicu Perubahan Batas Kota
Mengenal Motif Busana Pengantin Khas Mojokerto: Warisan Megah Budaya Majapahit
Menguak Asal Mula dan Perkembangan Kesenian Bantengan di Mojokerto
Penanggungan Gunung Api yang Tidur Ribuan Tahun, Apakah Masih Bisa Meletus?
Sudah Ada Sejak 1962, Ini Sejarah Gerak Jalan Mojosari-Mojokerto