Pertempuran Pacet 1949: Kisah Berdarah Saat Mojokerto Jadi Garis Depan Perang Kemerdekaan

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Jumat, 1 Agustus 2025 | 11:00 WIB
Cuplikan tulisan dalam buku "Sam Karya Bhirawa Anoraga" yang ditunjukkan oleh sejarawan Ayuhanafiq. Paragraf ini menjadi dasar keyakinannya bahwa Pacet, Mojokerto garis depan perjuangan kemerdekaan. (Arsip Sejarah Ayuhanafiq)
Cuplikan tulisan dalam buku "Sam Karya Bhirawa Anoraga" yang ditunjukkan oleh sejarawan Ayuhanafiq. Paragraf ini menjadi dasar keyakinannya bahwa Pacet, Mojokerto garis depan perjuangan kemerdekaan. (Arsip Sejarah Ayuhanafiq)

"Pertempuran berlangsung dari pagi hingga malam, dan hanya kegelapan malam yang menyelamatkan pasukan komando Hayam Wuruk," tutur Yuhan.

Banyak prajurit gugur, termasuk Kapten Mat Yatim (komandan kompi Batalyon Mansyur), Solikhi, dan Madjid Asmara (kepala staf batalyon). Batalyon Mansyur kehilangan hampir setengah kekuatannya.

Bahkan sebagian pejuang tak pernah kembali. Mayor Moenasir dalam konsolidasi di Cukir Jombang hanya bisa menghitung segelintir anak buahnya yang tersisa. Akibat itulah, Kyai Achyat Chalimy menyebut satuan itu sebagai "Batalyon Ilang" atau batalyon yang musnah.

"Karena kehilangan anggota itulah Abah Yat (sapaan Kyai Achyat Chalimy) menyebutnya Batalyon Ilang," ungkap Yuhan.

Namun Moenasir tak menyerah, untuk mengisi kembali barisan yang hilang, ia merekrut para santri dari pesantren-pesantren sekitar Cukir. Batalyon Moenasir selamat dari pembubaran dan terus bertahan hingga akhir 1949, saat kedaulatan diserahkan secara resmi kepada Republik Indonesia.

Baca Juga: Menguak Asal Mula dan Perkembangan Kesenian Bantengan di Mojokerto

Korban Terlupakan, Monumen pun Tak Ada

Korban di pihak Belanda pun diyakini tak sedikit, menurut cerita dari almarhum Yazid Qohar, berdasarkan penuturan langsung dari Kyai Achyat, truk-truk Belanda datang pada akhir pertempuran untuk mengevakuasi korban mereka, namun tidak diketahui pasti jumlahnya.

Namun berbeda dengan tentara Belanda, korban dari rakyat dan pejuang Republik dibiarkan tergeletak di medan pertempuran, tanpa evakuasi dan tanpa penghormatan.

Lebih memilukan lagi, hingga kini tak ada satu pun monumen besar yang menandai tragedi berdarah itu. Tak ada prasasti, tak ada tugu perjuangan.

"Sayangnya, pertempuran besar itu tidak ditandai dengan monumen yang layak. Padahal ribuan nyawa telah melayang di sana demi mempertahankan kata 'kemerdekaan'," pungkas Yuhan.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X