Sejarah Lapangan Mangoensari: Stadion Pertama Mojokerto yang Lahir dari Strategi Politik Kolonial

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Jumat, 22 Agustus 2025 | 07:00 WIB
Suasana pertandingan sepak bola di Lapangan Mangoensari, stadion pertama Mojokerto, sekitar era 1930-an. (Arsip sejarah dari Ayuhanafiq)
Suasana pertandingan sepak bola di Lapangan Mangoensari, stadion pertama Mojokerto, sekitar era 1930-an. (Arsip sejarah dari Ayuhanafiq)

Kabar Mojokerto - Masyarakat Mojokerto kini mengenal Stadion A. Yani sebagai pusat kegiatan olahraga, namun tak banyak yang tahu bahwa sejarah stadion pertama kota ini bermula dari strategi politik kolonial.

"Lapangan Mangoensari bukan hanya sarana olahraga, tapi juga alat kendali sosial pada masa kolonial," ungkap Ayuhanafiq, sejarawan lokal Mojokerto.

Stadion ini dibangun pada tahun 1926 di kawasan Mangunsari, tepat di selatan sekolah MULO, atas prakarsa Asisten Residen Mojokerto saat itu, Cornelius.

Cornelius melihat bahwa meningkatnya aktivitas politik anak muda bumiputra dapat menjadi ancaman, dan ia berupaya mengalihkan perhatian mereka melalui olahraga, khususnya sepak bola.

"Di era 1920-an, rapat-rapat politik mulai marak dan dianggap mengganggu stabilitas, maka olahraga dijadikan pelampiasan yang lebih bisa dikontrol," jelas Yuhan, sapaan akrab Ayuhanafiq.

Baca Juga: Siapa Saja Tokoh di Balik Makam Tujuh Troloyo Mojokerto? Ini Jejak Islam Tertua di Majapahit

Lapangan ini dirancang membujur utara-selatan agar pemain tak silau terkena matahari, dengan dua lapangan, yakni satu untuk pertandingan, satu lagi untuk latihan.

Lokasinya pun strategis, berada di Oosterweg (kini Jalan Gajah Mada), berdekatan dengan RS Pemerintah, kolam renang, dan stasiun kereta api.

Tak lama setelah lapangan berdiri, klub-klub sepak bola tumbuh pesat seperti MVC (klub Eropa), HCTNH (klub Tionghoa), dan Madjapait (klub pribumi).

"Padatnya jadwal pemakaian lapangan membuat klub-klub bersatu membentuk Modjokerto Voetbal Bond (MVB), cikal bakal organisasi sepak bola lokal," kata Yuhan.

MVB kemudian menyewa lapangan Mangoensari seharga f.240 per tahun dan berganti nama menjadi MOVU setelah klub Madjapait bergabung.

Selain pertandingan sepak bola, lapangan ini juga dipakai untuk kegiatan massal seperti Konferensi NU Jawa Timur tahun 1934.

Baca Juga: Sejarah Hari Juang Polri: Saat Polisi Jadi Garda Terdepan Bela Indonesia

"Lapangan ini multifungsi, bahkan pernah digunakan sebagai tempat pembukaan konferensi keagamaan besar pada masa itu," tambahnya.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X