Kasus Stunting di Kota Mojokerto Diklaim Turun Drastis, Kini Terisa 1,54 Persen

Photo Author
Muhammad Lutfi Hermansyah, Kabar Mojokerto
- Jumat, 14 Maret 2025 | 08:46 WIB
Rembug Stunting yang dilakukan di Sabha Mandala Madya Kantor Pemkot Mojokerto.  (Dok. Diskominfo Kota Mojokerto )
Rembug Stunting yang dilakukan di Sabha Mandala Madya Kantor Pemkot Mojokerto. (Dok. Diskominfo Kota Mojokerto )

Kabar Mojokerto- Pemererintah Kota Mojokerto mengklaim kusus stunting di Kota Mojokerto penanganan stunting atau gizi buruk di wilayahnya membuahkan hasil optimal. Kasus stunting di Kota Mojokerto menurun drastis dari sebelumnya sempat 7,71 persen, kini tersisa 1,54 persen per Desember 2024.

Hal ini terungkap saat Rembug Stunting yang dilakukan di Sabha Mandala Madya, Kantor Pemkot Mojokerto, Jalan Gajah Mada 145, Rabu (12/3/2025).

Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Mojokerto Gaguk Tri Prasetyo melaporkan, rembug stunting dilaksanakan setiap tahun guna menyusun program kegiatan di tahun berikutnya.

“Artinya, rembug stunting kali ini dalam rangka untuk menyusun program kegiatan dalam rangka menurunkan angka stunting di tahun 2026. Dan hasil rembug stunting ini akan disampaikan dalam Musrenbang tingkat kota,” ujarnya.

Semua intervensi untuk menurunkan angka stunting, baik itu intervensi spesifik, sensitif, maupun koordinatif selama ini sudah berjalan secara optimal.

“Seluruh indikator telah tercapai 100%. Kegiatan yang masuk dalam kategori intervensi koordinatif, semuanya sudah dilaksanakan,” imbuhnya.

Berdasarkan elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM), di Kota Mojokerto menunjukkan penurunan prevalensi stunting selama 5 tahun.

Baca Juga: Kasus Stunting di Kabupaten Mojokerto 2024 Turun Jadi 2,05 Persen

Pada tahun 2020 prevalansi stunting di Kota Mojokerto di angka 7,71% atau sekitar 301 balita. Dan terakhir pada Desember 2024 menurun menjadi 1,54% atau setara dengan 88 balita.

“Di tahun 2025 ini targetnya turun lagi menjadi 1,23% atau setara dengan 71 balita,” tandasnya.

Sekretaris Daerah Kota Mojokerto ini juga menyampaikan, pada beberapa kesempatan yang lalu Kota Mojokerto juga mendapatkan apresiasi dari Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementrian Kesehatan RI bahwa Kota Mojokerto sebagai kota terbaik se-Indonesia dalam pencapaian indikator intervensi spesifik percepatan penurunan stunting di tahun 2024.

“Permasalahan stunting semata-mata bukan masalah kesehatan, tapi juga masalah ekonomi, pendidikan, lingkungan, sanitasi, dan lainnya. Oleh karenanya, intervensi yang dilakukan melibatkan seluruh komponen dan kekuatan di Kota Mojokerto,” tegasnya.

Baca Juga: Bupati Ikfina Minta Masyarakat Sadari Pentingnya Cegah Stunting dan Lansia Mandiri

Sedangkan Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari dalam arahannya mengatakan, Rembug Stunting menjadi sebuah tugas yang sangat penting untuk dilaksanakan bersama-sama, dimana akan berupaya sesuai dengan tugas masing-masing untuk mengeleminir angka stunting di Kota Mojokerto.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

MBG Tetap Jalan di Bulan Ramadan, Ini Bocaran Menunya

Selasa, 3 Februari 2026 | 16:05 WIB

Korban Keracunan MBG di Mojokerto Kini Capai 261 Anak

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:45 WIB

India Jadi Role Mode MBG, DPR Minta Kaji Ulang

Selasa, 4 November 2025 | 11:06 WIB

Cuaca Panas Ekstrem, Ini 6 Dampak Paparan Sinar UV

Minggu, 19 Oktober 2025 | 15:32 WIB
X