Kasus Stunting di Kabupaten Mojokerto 2024 Turun Jadi 2,05 Persen

Photo Author
Latif Saipudin, Kabar Mojokerto
- Kamis, 12 Desember 2024 | 20:24 WIB
Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati  menyambangi balita di Posyandu dalam program Sehati untuk menekan stunting. (M Lutfi Hermansyah)
Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menyambangi balita di Posyandu dalam program Sehati untuk menekan stunting. (M Lutfi Hermansyah)

Kabar Mojokerto - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mojokerto melakukan berbagai upaya dalam menekan angka stunting di wilayahnya. Pada tahun 2024 ini, kasus stunting di Kabupaten Mojokerto turun menjadi 2,05 persen.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, dr Ulum Rokhmat Rokhmawan, mengatakan tercatat 2,05 persen atau 1.339 dari 65.225 balita per akhir 2024. Angka tersebut turun jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Padahal, jumlah balita pada tahun 2024 mengalami kenaikan. Pada tahun 2023, kasus stunting di Kabupaten Mojokerto tercatat 2,62 persen atau 1.360 dari 51.884 balita.

Baca Juga: PMI Kabupaten Mojokerto Terima Bantuan 1 Unit Mobil Ambulans dari BNI

Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati menyambangi balita di Posyandu dalam program Sehati untuk menekan stunting. (M Lutfi Hermansyah)

“Alhamdulillah, tahun ini turun persentasenya menjadi 2,05 persen. Padahal jumlah balita lebih banyak dibandingkan tahun 2023,” katanya kepada Kabar Mojokerto, Kamis (12/12/2024).

Penurunan kasus stunting tidak lepas dari upaya tim percepatan penurunan stunting dan koordinasi lintas sektor, mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa. Selain itu, Dinkes Kabupaten Mojokerto juga melibatkan tiga perguruan tinggi kesehatan.

“Ada beberapa hal yang terus dilakukan untuk menekan kasus stunting. Misalnya, kunjungan rumah oleh tim dari puskesmas atau bidan desa, pelaksanaan posyandu di seluruh desa, hingga pemberian makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil,” ungkapnya.

Baca Juga: Dinsos Mojokerto Salurkan BLT DBHCHT untuk 46 KPM di Pacet

Ia menjelaskan, langkah-langkah dalam menekan angka stunting antara lain, rujukan balita stunting, wasting, dan weight faltering ke rumah sakit rujukan, serta edukasi kepada masyarakat terkait seribu hari pertama kehidupan untuk pencegahan terjadinya stunting.

Selain itu, pelatihan skrining deteksi intervensi dini tumbuh kembang dan pemberian makan balita dan anak prasekolah bagi tenaga kesehatan, kader, dan guru sekolah juga dilakukan. Skrining anemia juga dilakukan untuk remaja putri.

Program-program tersebut dikemas melalui beberapa inovasi. Di antaranya adalah Jumat Ceria, Sehati, dan Pusyangatra.

“Kami juga memberikan tablet tambah darah bagi remaja putri dan calon pengantin. Lalu, rujukan remaja putri yang mengalami anemia ke rumah sakit,” katanya.

Baca Juga: Pemkab Mojokerto Siapkan Rp 3 Miliar untuk Tangani Bencana

Upaya lainnya adalah dengan membuat gerakan serentak intervensi stunting yang melibatkan seluruh sektor yang ada di masyarakat. Seperti pemantauan tumbuh kembang di Posyandu untuk memastikan asupan gizi balita seimbang atau tidak. Dengan demikian, balita bisa tumbuh optimal dan tidak muncul stunting baru.

“Upaya ini membutuhkan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, dengan fokus pada 1.000 hari pertama kehidupan. Karena masa tersebut sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak di masa depan,” ungkap Ulum.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X