Kabar Mojokerto – PT Energi Agro Nusantara (Enero) di Desa Gempolkrep, Gedeg, Mojokerto menghasilkan 900 ton pupuk hayati cair (PHC) per hari. PHC yang mereka hasilkan sembilan kali lebih besar dibandingkan produk bioetanol.
PT Enero adalah BUMN anak perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 1. Pabrik ini memproduksi bioetanol menggunakan bahan baku molases atau tetes tebu dari pabrik gula.
Direktur PT Enero, Puji Setiawan, mengatakan, produksi bioetanol menghasilkan limbah atau spent wash. Limbah ini diolah melalui proses biometanasi menjadi cairan dengan keasaman atau pH netral.
Baca Juga: PT Enero Mojokerto Diusulkan Salurkan Biogas ke Warga, Pengganti Elpiji
"Liquid dengan pH netral itu kami campur mikroba menjadi pupuk hayati cair (PHC). Jumlahnya sekitar sembilan kali produk bioetanolnya," terangnya kepada wartawan saat mendampingi sidak Komisi 3 DPRD Kabupaten Mojokerto, Kamis (6/2/2025).
Dikawal tim akademisi dari Universitas Brawijaya, Malang, lanjut Puji, pihaknya telah menguji PHC tersebut, mulai dari uji komposisi, mutu, hingga efektivitasnya terhadap tanaman.
Sehingga, akhir 2014 lalu, PT Enero mengantongi izin edar dari Kementerian Pertanian. Sejak itu, PHC disalurkan kepada para petani di Mojokerto, Malang, Blitar, dan Kediri.
"Sehari kalau produksi kami penuh kapasitas, kira-kira 900 ton (PHC)," ungkapnya.
PHC berwarna hitam pekat dan berbau tidak sedap. Pupuk organik ini berfungsi mengembalikan struktur tanah. Namun, efeknya bagi tanaman tidak secepat pupuk kimia.
Baca Juga: DPRD Mojokerto Sidak PT Enero, Tuntut Penanganan Bau Tak Sedap yang Ganggu Warga
Tidak hanya itu, biometanasi terhadap limbah atau spent wash juga menghasilkan biogas. Menurut Puji, biogas tersebut mengandung 54-60% metana atau CH4. Biogas ini berbau tidak sedap, mirip gas elpiji.
"Ini mirip dengan elpiji, kandungannya sama, CH4. Bedanya ini dari proses metanogenesis, baunya secara alami seperti bau elpiji," jelasnya.
Selama ini, PT Enero membakar biogas setelah melalui proses metanogenesis. Sebab, pembakaran mampu menghilangkan bau tidak sedap biogas. Gas yang luput dari pembakaran lah yang menyebar ke permukiman penduduk sekitar pabrik. Sehingga, bau tidak sedap gas dikeluhkan warga sekitar.
Sebagai solusinya, kata Puji, pihaknya mencari alat untuk mendeteksi padamnya sistem pembakaran biogas. Tujuannya tak lain untuk mencegah biogas menyebar. Di sisi lain, dewan mendesaknya agar menyalurkan biogas ke rumah-rumah penduduk sebagai bahan bakar pengganti elpiji.
Artikel Terkait
Puluhan Suporter PS Mojokerto Putra Diamankan Polisi Saat Konvoi di Jalanan
Dishub Jatim Tambah CCTV di Terminal Kertajaya untuk Tingkatkan Keamanan
Satpol PP Mojokerto Gerebek Prostitusi Terselubung, 6 PSK Diamankan
DPRD Mojokerto Sidak PT Enero, Tuntut Penanganan Bau Tak Sedap yang Ganggu Warga
PT Enero Mojokerto Diusulkan Salurkan Biogas ke Warga, Pengganti Elpiji