Yang menarik, ia menggantikan orang yang sama dua kali, pertama sebagai Wedono menggantikan Soedarsono, lalu sebagai wali kota. Pada Pemilu 1955, Soetimbul terpilih sebagai anggota Konstituante dari PNI, menandai puncak karier politiknya.
Dengan jabatan di legislatif nasional, ia resmi melepas posisi wali kota Pasuruan pada 9 November 1955. Sayangnya, dalam sejumlah dokumen resmi, namanya keliru ditulis sebagai "Kromohadisoerjo" alih-alih "Kertowisastro."
Baca Juga: Mojokerto 1966: Tragedi Runtuhnya PKI di Bumi Majapahit yang Tak Terlupakan
Menurut Yuhan, kesalahan ini perlu diluruskan agar sejarah lokal tidak kabur oleh detail administratif yang keliru.
"Nama adalah identitas sejarah, dan kita punya tanggung jawab untuk menjaga akurasi catatan masa lalu," tutup Yuhan.
Artikel Terkait
Siapa Saja Tokoh di Balik Makam Tujuh Troloyo Mojokerto? Ini Jejak Islam Tertua di Majapahit
Sejarah Lapangan Mangoensari: Stadion Pertama Mojokerto yang Lahir dari Strategi Politik Kolonial
Mojokerto 1966: Tragedi Runtuhnya PKI di Bumi Majapahit yang Tak Terlupakan
Bukan Sunrise, Ternyata Ini Mall Pertama di Mojokerto yang Punya Eskalator dan Bioskop
Candi Kendalisodo: Peninggalan Berundak di Lereng Gunung Penanggungan Mojokerto