Yuhan menjelaskan, pengadaan lampu oblik ditanggung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto. Ia mencotohkan, Gemeente Mojokerto menetapkan anggaran belanja untuk penerangan jalan sejumlah f. 5.500 gulden pada tahun 1919.
“Biaya sebesar itu dipakai untuk pembelian lampu lentera sejumlah f. 1.000 gulden. Sedangkan untuk ongkos juru pelihara lentera berikut bahan bakar gasoline ditetapkan senilai f. 4.500 gulden,” beber anggota Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Mojokerto itu.
Baca Juga: Kisah Majapahit Diserang Pagebluk, Mpu Supo Bertindak
Pada 1923, lanjut Yuhan, penerangan jalan kemudian ditingkatkan dengan menggunakan lampu petromaks. Pemkot Mojokerto melakukan pergantian secara bertahap dengan mengganti lampu minyak dengan lampu bermerek Stormking. Meski saat itu mengalami keterbatasan anggaran.
“Pergantian dilakukan karena lampu petromaks memiliki pancaran cahaya yang lebih terang,” tuturnya.
Seiring berjalannya waktu, pemasangan lampu penerangan jalan juga diperluas. Salah satu yang disasar adalah pada ruas jalan yang menjadi gerbang masuk ke wilayah Kota Mojokerto.
“Sehingga lampu petromaks juga dipasang di jembatan Terusan yang saat itu menjadi akses utama ke kota,” terang Yuhan.
Untuk urusan pemakaian lampu modern, kota Mojokerto masih tertinggal. Pada tahun 1923 jalanan kota Pasuruan sudah menggunakan lampu listrik dari perusahaan Aniem.
Artikel Terkait
Mengulas Sejarah Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya yang Jadi Inspirasi Gombloh Ciptakan Lagu
Letkol Soemardjo, Pejuang Asal Mojokerto yang Gugur dalam Pertempuran di Surabaya
Mengulik Kisah Aneh-Mistis Penjaga Makam Pahlawan Gajah Mada Mojokerto
Ada Bunker Peninggalan Belanda di GPIB Immanuel Mojokerto, Apa Funsinya?
Perjalanan Singkat Modjokerto Voetbal Club Sebagai Cikal Bakal Persem