"SKDR (Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon) berfungsi dengan baik. Deteksi dan penanganan dini terhadap risiko kesehatan, termasuk kesiapan dalam diagnosis dan perawatan DBD, sangat penting," ungkapnya.
Ia juga menjelaskan penanganan masalah kesehatan di Mojokerto melibatkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT/PSC 119) dan SKDR, yang terhubung dengan sistem Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto, Dinkes Provinsi Jawa Timur, dan Kemenkes.
"Dengan demikian, penanganan kesehatan bagi individu maupun masyarakat sudah menjadi kegiatan rutin oleh Dinas Kesehatan bersama dengan jaringan terkait, seperti Puskesmas, Laboratorium Kesehatan Daerah, Rumah Sakit Umum Daerah, Klinik, Rumah Sakit Swasta, Organisasi Profesi, PMI, serta relawan dan kader kesehatan," kata dr Ulum.
Baca Juga: Ini Gejala dan Penanganan Hewan Ternak Terinfeksi PMK
Pemkab Mojokerto, melalui Dinas Kesehatan, akan terus memperkuat respons pelayanan kesehatan masyarakat, terutama pasca bencana banjir.
"Respons kesehatan akan ditingkatkan dalam situasi tertentu, seperti kedaruratan akibat KLL, perubahan cuaca yang dapat memicu penyakit, atau bencana hidrometeorologi yang tengah dihadapi," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kasus PMK di Mojokerto Terkendali, Jumlah Sapi Terpapar Turun
Memasuki Puncak Musim Hujan, Ini Tips untuk Warga Mojokerto Jaga Kesehatan Saat Cuaca Dingin
Ini Gejala dan Penanganan Hewan Ternak Terinfeksi PMK
Tips Memasak Daging di Tengah Wabah PMK
Kasus PMK di Mojokerto Melonjak Drastis, Total 291 Sapi Terinfeksi