Cerita Pasutri Penjual Pisang di Mojokerto Berangkat Haji Setelah 23 Tahun Menabung

Photo Author
Muhammad Lutfi Hermansyah, Kabar Mojokerto
- Rabu, 30 April 2025 | 08:00 WIB
Sabar (61) dan Kustinayah (50), pasutri penjual pisang di Mojokerto, tetap semangat berdagang sambil menabung demi impian berangkat haji. (M Lutfi Hermansyah)
Sabar (61) dan Kustinayah (50), pasutri penjual pisang di Mojokerto, tetap semangat berdagang sambil menabung demi impian berangkat haji. (M Lutfi Hermansyah)

Kabar Mojokerto – Sabar (61) dan Kustinayah (50), pasangan suami istri (pasutri) penjual pisang di Mojokerto, bersyukur karena akhirnya bisa berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji bersama tahun ini.

Untuk mewujudkan impian tersebut, pasutri asal Dusun Urung-urung, Desa Jatijejer, Kecamatan Trawas, Mojokerto ini harus rela menabung selama 23 tahun. Mereka mengaku mulai menabung sejak tahun 2002.

Sabar dan istrinya berjualan pisang di Pasar Sawahan, Kecamatan Mojosari, Mojokerto. Sejak 2002, mereka rutin menyisihkan sebagian hasil jualan untuk ditabung sebagai bekal naik haji. Sedikit demi sedikit, uang dari penjualan pisang dikumpulkan.

Baca Juga: 505 Calon Jemaah Haji Mojokerto Gagal Berangkat, Terkendala Pelunasan BIPIH

"Mulai 2002 saya sudah mulai nabung. Nabungnya Rp10 ribu, Rp15 ribu, Rp20 ribu, seadanya uang,” ujar Kustinayah, Selasa (29/4/2025).

Setelah bertahun-tahun menabung, pasangan ini akhirnya bisa mendaftar haji melalui KBIH AR Rahmah pada tahun 2012. Mereka langsung memesan dua kursi. Kini, panggilan itu datang. Mereka akan berangkat sebagai tamu Allah pada musim haji tahun 2025.

Kustinayah mengatakan dirinya rela berjualan dari pagi hingga sore demi melunasi biaya haji. Bahkan, ia juga ikut arisan untuk mempercepat pengumpulan dana.

"Ikut arisan juga. Kumpulnya sedikit demi sedikit supaya tidak keteteran. Saya tabung, dan akhirnya lunas," imbuhnya.

Saat pertama kali mendaftar ke KBIH, ia mengaku sang suami belum mengetahui niatnya. Bahkan, suaminya sempat meragukan kemampuannya untuk menabung.

Baca Juga: Timbun 14,25 Ton Pupuk Subsidi, Dua Warga Mojokerto Dituntut 1 Tahun Penjara

"Suami tidak tahu, tahunya waktu saya ajak daftar. Dia sempat bilang, ‘Kamu ada uang kah?’. Saya jawab, ‘Ada, sedikit-sedikit. Ayo menabung’," kenang Kustinayah.

Kisah mereka adalah pengingat bahwa kesetiaan pada niat, kerja keras tanpa henti, dan hidup sederhana bukanlah hal yang sia-sia.

Di lapak jualan merekalah, Sabar dan Kustinayah menaruh harapan. Kini, mereka pun bersiap menyambut panggilan mulia dari Tanah Suci, hadiah dari puluhan tahun kesabaran dan keyakinan.

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X