Fenomena Kemarau Basah, BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Tak Menentu di Mojokerto

Photo Author
Fanda Yusnia, Kabar Mojokerto
- Sabtu, 24 Mei 2025 | 09:00 WIB
Ilustrasi Prakiraan Cuaca Hujan (Foto: Kabarmojokerto.id)
Ilustrasi Prakiraan Cuaca Hujan (Foto: Kabarmojokerto.id)

Kabar Mojokerto – Hujan masih turun deras di Mojokerto, meski langit tampak cerah di siang hari. Di sore hingga malam, gerimis hingga hujan lebat datang tanpa permisi. Cuaca yang tak menentu ini memunculkan satu pertanyaan besar, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Jawabannya, inilah yang dikenal sebagai fenomena kemarau basah.

Apa Itu Kemarau Basah?

Secara sederhana, kemarau basah adalah kondisi ketika musim kemarau datang berdasarkan kalender, namun hujan masih sering turun. Ini adalah anomali cuaca yang memadukan dua kondisi yang seharusnya bertolak belakang: kemarau dan hujan.

Menurut prediksi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sekitar 26 persen wilayah Indonesia mengalami kemarau yang lebih basah dari biasanya di tahun 2025. Bahkan, hujan bisa tetap terjadi dengan curah hujan lebih dari 100 mm per bulan, padahal batas normal kemarau adalah di bawah 50 mm.

Baca Juga: Gudang Penyulingan Oli di Gedeg Mojokerto Terbakar

Apa Penyebabnya?

Kemarau basah bukan fenomena sembarangan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi, di antaranya:

  • Suhu permukaan laut yang menghangat di sekitar Indonesia, termasuk di Laut Jawa dan Samudra Hindia.

  • Pengaruh La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif yang masih aktif.

  • Angin monsun Australia yang tetap membawa kelembaban meskipun seharusnya mengeringkan wilayah selatan ekuator seperti Jawa Timur.

Melansir website BMKG, pada Sabtu (23/5/2025), deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan jika faktor-faktor ini menciptakan uap air berlimpah yang kemudian membentuk awan hujan, meski seharusnya langit cerah di musim kemarau.

Baca Juga: Garasi dan Mobil Warga Mojokerto Tertimpa Pohon Raksasa Tumbang Akibat Rapuh

Dampaknya di Mojokerto: Tidak Selalu Buruk, Tapi Harus Diwaspadai

Bagi masyarakat Mojokerto, terutama petani dan pelaku UMKM di sektor pertanian dan pangan, fenomena ini bisa membawa dua sisi:

Dampak Negatif:

  • Gagal panen tanaman palawija seperti jagung dan kedelai akibat terlalu banyak air.

  • Genangan air di persawahan bisa merusak tanaman padi muda.

  • Peningkatan risiko penyakit, seperti diare, leptospirosis, dan demam berdarah, karena kelembaban tinggi memicu pertumbuhan jentik nyamuk.

Halaman:

Editor: Fanda Yusnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X